Cerpen ini sebenarnya gak sengaja
banget aku bikin. Tepatnya saking nggregetnya aku sama sepupuku “Asti dan
Jihan” yang ngefans ¼ hidup sama Coboy Junior. Ya nggak apa-apa punya idola,
tapi kan gak nyisain jatah hidup cuma ¼ nyawa, cuma buat numpang makan sama
tidur dong juga kan???
Makanya, jadilah cerpen dadakan yang
aku bikin tengah malam selama sekitar 2 jam ini dengan sangat sederhana dan
banyak cela. Yaudah, baca aja deh!.. :D
***
Pada suatu sore yang cantik, setelah
matahari mulai lelah menyinari hamparan dunia, maka tinggallah senja nan sangat
indah yang tersisa. Sorotan sinar orange sisa-sisa pembakaran sang surya
sepanjang hari, kupu-kupu dan kumbang yang menari di antara para bunga, dan,
ah!
Itu dia.. Seorang gadis kecil yang
tengah asyik bermain ayunan. Naik dan turunnya berirama. Sesekali ia berhenti
untuk menikmati senja, lalu melanjutkan lagi permainannya.
Sambil mermain, ia mulai
bernyanyi-nyanyi..
"Libur tlah tiba, libur tlah
tiba, horre!, horre!," dendangnya penuh bahagia.
"Hey, Asti!, loe agi ngapain sih,
As? Nyanyi sambil jingkrak-jingkrakan di atas ayunan gitu?. Ntar jatuh loe!.
Lagian, libur kan masih lama, tau!, semesteran aja belum." Ucap sebuah
suara tiba-tiba. Itu Jihan. Teman gadis kecil yang sedang bermain ayunan,
bernama Asti itu.
Asti mendadak turun dari ayunannya.
Ia mengelus-elus dadanya yang masih berdebar-debar karena kaget.
"Ah, elu Jihan!. Sumpah lu,
ngagetin gue aja!. Untung aja gue gak jantungan." Teriak Asti tak terima.
"Heh?, ya maaf.. Loe aneh sih,
As.. Ada apaan sih?" Tanya Jihan yang sudah lebih dulu mendekati Asti dan
mengulurkan tangan kanannya, meminta maaf.
Ia cemberut. Namun tak lama kemudian
raut wajahnya kembai normal. "Iya deh, gue maafin." Respon Asti
menggapai tangan Jihan.
Senyuman Asti seketika mengembang.
"Eh Jihan, lu tau kagak?"
Ucap Asti senyum-senyum sendiri. Jihan menggeleng. "Liburan nanti, gue
diajak Papa nonton konser Coboy Junior di Jakarta, loh!" Papar Asti bangga
kepada teman karibnya itu.
"Hah?! Yang bener loe,
As!." Jihan melongo.
Asti melebarkan senyumannya. Giginya
yg putih bersih tersusun rapi itu pun berjejer rata, seolah sekumpulan tentara
bergaun sustrer yg tengah berbaris.
"Bener dong!, Papa dah beli
tiketnya. Tempat duduknya paling depan pula, jadi gue bisa meluk Iqbal.."
Guman Asti.
"Ah elu, As. Lu kan udah janji
mau liburan sama gue di danau. Kita liat anak kura-kura lagi." Ucap Jihan.
Asti menggeleng. “ Gak, Han. Gue gak
mau nyia-nyiain kesepatan emas ini, gue.. “ belum sempat Asti melanjutkan
ucapannya, tiba-tiba saja Jihan berlari meninggalkan Asti sendirian di taman
itu.
"Jihaaan!, tunggu!.." Asti
mengejar jihan sambil sesekali memanggil namanyanya. Namun Jihan yang merupakan
juara marathon se-sekolahnya itu, tak mampu dikejar oleh Asti.
Asti terduduk di rerumputan taman
senja. Tanpa Jihan, dan juga ayunan.
Senja hari ini, sudah semakin gelap.
Matahari itu sedikit lagi akan bergantikan Rembulan.
Asti masih terduduk di atas
rerumputan itu. Ia masih mengatur napasnya agar kembali normal. Namun ternyata ia
terlalu lelah mengejar Jihan tadi. Perlahan, direbahkan tubuh mungilnya itu di
atas rumput.
Sepoi angin senja pelan-pelan
membelai tubuh gadis berusia 12 tahun itu. Memaksa kelopak matanya untuk
terpejam, dan terus membelai memaksa masuk hingga ke tiap pori-pori di seluruh
tubuhnya.
Hawa ngantuk bercampur lelah masih
menggelayuti seluruh tubuh Asti, hawa yang segera saja mengantarkannya pada
tidur yang indah.
"Hey!, cwe?, bangun woy!"
Sentak sebuah suara yang tak asing lagi di telinga cwe itu.
Matanya mulai meremang. Gadis itu
berusaha membuka kelopak matanya, lalu dilihatnya wajah bocah lelaki tadi
dengan sangat jelas!.
"I... I... I... Iqbal?!"
Tebaknya.
Lelaki itu mematung di hadapan Asti.
Ia tak bergerak. Wajahnya diselimuti berjuta pertanyaan, dan rasa heran.
"Kamu Iqbal kan?" Seru
Asti setengah berteriak.
Lelaki yang diduga Iqbal -Coboy
Junior- itupun mengangguk.
"Iya, kamu Iqbaaal!.."
Teriak Asti tiba- tiba, dan langsung memeluk objek terindah yang berada tepat
di depan matanya itu.
***
"Bal.. Gue gak nyangka deh bisa
ketemu loe cuma berdua aja. Di taman pula.. So sweet beud," Celoteh Asti
berkali-kali. Iqbal hanya mengangguk dan tersenyum, sambil kedua tangannya
dilipat ke dada.
Mereka berjalan di antara
bunga-bunga yang indah itu, di bawah guyuran sinar orange, sisa-sisa pembakaran
sinar matahari di kala senja.
Hanya berdua. Indah sekali..
Asti semenjak tadi tersenyum-senyum
sendiri, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Iqbal.
"Eh, tadi nama loe sapa?"
Ucap Iqbal tiba-tiba.
"Asti.." Jawabnya agak
gugup.
Mereka masih berjalan. Terus
berjalan. Entah tempat seperti apa yang akan mereka datangi. Yang jelas, pasti
tempat itu sepertinya sangat indah.
Benar saja.
Mereka berhenti di puncak sebuah
bukit yang agak tinggi. Dua buah gunung menyembul memanjakan mata. Pepohonan
nan hijau terbentang dari kanan ke kiri. Rumah-rumah penduduk terlihat seperti
miniatur yang disusun sedemikian sempurnanya. Dan hadirnya Iqbal di sana. 'Ah,
itu sangat indah.' Batin Asti.
Mereka memejamkan mata, lalu angin
datang menghempaskan dengan lembut tubuh-tubuh itu. Di sana mereka mulai banyak
bercerita. Semakin sering terlihat tertawa bahagia, dan semakin merasa bahwa
mereka hanya berdua di atas dunia.
"Iqbal.. Gue mau ngomong
sesuatu." Ujar Asti tiba-tiba.
Lelaki itu mengernyitkan dahinya.
"Ngomong? Ngomong apa? Dari tadi juga kita lagi ngomong, kan?"
"Emm.., Bal, sebenarnya
gue..." Asti mulai gelisah. Kalimatnya terpotong-potong tak jelas.
"Sebenarnya, aku..." Lanjutnya tak melanjutkan.
Asti melirik ke arah Iqbal.
"Suka sama loe." Ujar Asti cepat. Ia menunduk.
"APA? Gue?" Tunjuk Iqbal
pada wajahnya. Ia tersentak tak percaya.
Gadis itu mengangguk.
"Lalu?" Tanya Iqbal lagi,
seolah ingin mengeduk isi pikiran gadis itu.
"Gue mau jadi pacar loe,
Bal." Katanya malu-malu.
"Maksudnya loe ngajak gue
pacaran, gitu?" Tanya Iqbal tersenyum, membuat Asti semakin dag-dig-dug.
"I... I.. Iya.." Ucap Asti
tertatih-tatih. "Kita jadian ya?" Lanjutnya penuh harap.
"Gak, ah!" Jawab Iqbal
enteng.
Asti cemberut.
"Kenapa? Loe udah punya gebetan
ya?" Terkanya asal ceplos.
"Bukan,"
"Terus?"
"Kita kan masih kecil. Kalau
sampe nyokap gue tau lw anak kesayangannya ini pacaran, bisa digorok leher
gue!. Lu juga, As!."
"Gue?" Tanyanya bingun.
"Iyalah. Loe kagak takut ma
nyokap loe?” Asti menunduk. “ Loe punya banyak teman yang baik banget sama loe.
Loe juga punya sahabat yang sangat peduliin loe. Gak perlu deh yang namanya
pacaran." Lanjut Iqbal panjang x lebar menjelaskan.
Asti mengangguk-angguk memahami kata
demi kata yang diucapkan idolanya itu. Ada rasa malu dalam hatinya.
"Bal.. Iqbal... Iqbaaal!"
Tiba-tiba 3 orang anak seusianya berlarian memanggil-manggil nama Iqbal. Ya.
Mereka adalah Kiki, Aldi, dan Bastian. Sahabat Iqbal.
"Asti, gue pergi dulu ya..
Sahabat-sahabat gue pada nyariin tuh!." Ujarnya pelan sambil meliriki
ketiga orang itu.
Sekali lagi, Iqbal tersenyum pada
Asti. Namun Asti tetap terdiam, hingga Iqbal ahirnya berlari menghampiri ke-3
sahabatnya.
Asti masih berdiri di atas bukit
itu. Ia melihat bagaimana bahagianya empat sekawan itu. Asti segera teringat
pada sahabatnya, Jihan. Ia sangat ingin meminta maaf padanya. Tapi tiba-tiba
pandangannya memburam. Langit mendung, dan semuanya berubah hitam.
***
"As.. Asti!, Asti
bangun!.." Panggil sebuah suara sambil meneput pelan bahu Asti.
Asti mulai siuman. Beberapa kali ia
mengguman, dan matanya mulai terbuka.
Senja telah berahir. Kini malam
gulita telah menyapa. Asti membuka kelopak matanya, remang-remang didapatinya
sebuah sosok anak manusia yang berada tepat di hadapannya.
Malam ini bulan purnama. Dari
pantulan sang purnama, Asti dapat dengan jelas mengenali sosok itu. Dia Jihan,
sahabatnya.
"Bruuk!" Asti tiba-tiba
saja menubrukkan tubuhnya dalam pelukan Jihan. Seketika, ia menangis
sejadi-jadinya dalam pelukan sahabatnya itu.
Jihan hanya bengong dibuatnya.
"Jihan.. Maafin gue ya!,. Maaf
gue udah sempet lupain loe, udah lupain rencana liburan kita ke danau buat liat
anak kura-kura yang baru menetas itu belajar berenag. Gue mau bilang ma Papa
kalau gue gak mau jadi nonton konser Coboy Junior. Gue mau ngabisin liburan di
sini aja sama loe. Maafin gue, Jihan!." Ujar Asti beruntut, seolah tak
berikan jeda untuk Jihan dapat menjawabnya satu per satu. "Kita masih
sahabatan kan, Jihan?" Suara Asti melemah. Ia menjulurkan tangannya kepada
Jihan.
"Iya, Asti. Loe, Gue, best
friend. Forever!" Tegas jihan menyambut uluran tangan Asti.
Mereka berpelukan di bawah guyuran
sang Rembulan. Merajut untaian janji-janji persahabatan yang abadi. Dan bulan
purnama di atas sana, telah menjadi saksi bisu tentang satu lagi indahnya kisah
persahabatan dua anak manusia.
Ankasa, 19 November 2012.
01.30 - 04.00 WIB.


