Headlines News :
Home » » Sahabat Selamanya

Sahabat Selamanya

Written By Anis Khairunnisa on Senin, 14 April 2014 | 21.18








Cerpen ini sebenarnya gak sengaja banget aku bikin. Tepatnya saking nggregetnya aku sama sepupuku “Asti dan Jihan” yang ngefans ¼ hidup sama Coboy Junior. Ya nggak apa-apa punya idola, tapi kan gak nyisain jatah hidup cuma ¼ nyawa, cuma buat numpang makan sama tidur dong juga kan???

Makanya, jadilah cerpen dadakan yang aku bikin tengah malam selama sekitar 2 jam ini dengan sangat sederhana dan banyak cela. Yaudah, baca aja deh!.. :D
***



Pada suatu sore yang cantik, setelah matahari mulai lelah menyinari hamparan dunia, maka tinggallah senja nan sangat indah yang tersisa. Sorotan sinar orange sisa-sisa pembakaran sang surya sepanjang hari, kupu-kupu dan kumbang yang menari di antara para bunga, dan, ah!
Itu dia.. Seorang gadis kecil yang tengah asyik bermain ayunan. Naik dan turunnya berirama. Sesekali ia berhenti untuk menikmati senja, lalu melanjutkan lagi permainannya.

Sambil mermain, ia mulai bernyanyi-nyanyi..

"Libur tlah tiba, libur tlah tiba, horre!, horre!," dendangnya penuh bahagia.

"Hey, Asti!, loe agi ngapain sih, As? Nyanyi sambil jingkrak-jingkrakan di atas ayunan gitu?. Ntar jatuh loe!. Lagian, libur kan masih lama, tau!, semesteran aja belum." Ucap sebuah suara tiba-tiba. Itu Jihan. Teman gadis kecil yang sedang bermain ayunan, bernama Asti itu.

Asti mendadak turun dari ayunannya. Ia mengelus-elus dadanya yang masih berdebar-debar karena kaget.
"Ah, elu Jihan!. Sumpah lu, ngagetin gue aja!. Untung aja gue gak jantungan." Teriak Asti tak terima.

"Heh?, ya maaf.. Loe aneh sih, As.. Ada apaan sih?" Tanya Jihan yang sudah lebih dulu mendekati Asti dan mengulurkan tangan kanannya, meminta maaf.

Ia cemberut. Namun tak lama kemudian raut wajahnya kembai normal. "Iya deh, gue maafin." Respon Asti menggapai tangan Jihan.

Senyuman Asti seketika mengembang.

"Eh Jihan, lu tau kagak?" Ucap Asti senyum-senyum sendiri. Jihan menggeleng. "Liburan nanti, gue diajak Papa nonton konser Coboy Junior di Jakarta, loh!" Papar Asti bangga kepada teman karibnya itu.

"Hah?! Yang bener loe, As!." Jihan melongo.

Asti melebarkan senyumannya. Giginya yg putih bersih tersusun rapi itu pun berjejer rata, seolah sekumpulan tentara bergaun sustrer yg tengah berbaris.

"Bener dong!, Papa dah beli tiketnya. Tempat duduknya paling depan pula, jadi gue bisa meluk Iqbal.." Guman Asti.

"Ah elu, As. Lu kan udah janji mau liburan sama gue di danau. Kita liat anak kura-kura lagi." Ucap Jihan.

Asti menggeleng. “ Gak, Han. Gue gak mau nyia-nyiain kesepatan emas ini, gue.. “ belum sempat Asti melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Jihan berlari meninggalkan Asti sendirian di taman itu.

"Jihaaan!, tunggu!.." Asti mengejar jihan sambil sesekali memanggil namanyanya. Namun Jihan yang merupakan juara marathon se-sekolahnya itu, tak mampu dikejar oleh Asti.

Asti terduduk di rerumputan taman senja. Tanpa Jihan, dan juga ayunan.
Senja hari ini, sudah semakin gelap. Matahari itu sedikit lagi akan bergantikan Rembulan.

Asti masih terduduk di atas rerumputan itu. Ia masih mengatur napasnya agar kembali normal. Namun ternyata ia terlalu lelah mengejar Jihan tadi. Perlahan, direbahkan tubuh mungilnya itu di atas rumput.

Sepoi angin senja pelan-pelan membelai tubuh gadis berusia 12 tahun itu. Memaksa kelopak matanya untuk terpejam, dan terus membelai memaksa masuk hingga ke tiap pori-pori di seluruh tubuhnya.

Hawa ngantuk bercampur lelah masih menggelayuti seluruh tubuh Asti, hawa yang segera saja mengantarkannya pada tidur yang indah.

"Hey!, cwe?, bangun woy!" Sentak sebuah suara yang tak asing lagi di telinga cwe itu.

Matanya mulai meremang. Gadis itu berusaha membuka kelopak matanya, lalu dilihatnya wajah bocah lelaki tadi dengan sangat jelas!.

"I... I... I... Iqbal?!" Tebaknya.

Lelaki itu mematung di hadapan Asti. Ia tak bergerak. Wajahnya diselimuti berjuta pertanyaan, dan rasa heran.

"Kamu Iqbal kan?" Seru Asti setengah berteriak.

Lelaki yang diduga Iqbal -Coboy Junior- itupun mengangguk.

"Iya, kamu Iqbaaal!.." Teriak Asti tiba- tiba, dan langsung memeluk objek terindah yang berada tepat di depan matanya itu.

***
"Bal.. Gue gak nyangka deh bisa ketemu loe cuma berdua aja. Di taman pula.. So sweet beud," Celoteh Asti berkali-kali. Iqbal hanya mengangguk dan tersenyum, sambil kedua tangannya dilipat ke dada.

Mereka berjalan di antara bunga-bunga yang indah itu, di bawah guyuran sinar orange, sisa-sisa pembakaran sinar matahari di kala senja.

Hanya berdua. Indah sekali..

Asti semenjak tadi tersenyum-senyum sendiri, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Iqbal.

"Eh, tadi nama loe sapa?" Ucap Iqbal tiba-tiba.

"Asti.." Jawabnya agak gugup.

Mereka masih berjalan. Terus berjalan. Entah tempat seperti apa yang akan mereka datangi. Yang jelas, pasti tempat itu sepertinya sangat indah.

Benar saja.

Mereka berhenti di puncak sebuah bukit yang agak tinggi. Dua buah gunung menyembul memanjakan mata. Pepohonan nan hijau terbentang dari kanan ke kiri. Rumah-rumah penduduk terlihat seperti miniatur yang disusun sedemikian sempurnanya. Dan hadirnya Iqbal di sana. 'Ah, itu sangat indah.' Batin Asti.

Mereka memejamkan mata, lalu angin datang menghempaskan dengan lembut tubuh-tubuh itu. Di sana mereka mulai banyak bercerita. Semakin sering terlihat tertawa bahagia, dan semakin merasa bahwa mereka hanya berdua di atas dunia.

"Iqbal.. Gue mau ngomong sesuatu." Ujar Asti tiba-tiba.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya. "Ngomong? Ngomong apa? Dari tadi juga kita lagi ngomong, kan?"

"Emm.., Bal, sebenarnya gue..." Asti mulai gelisah. Kalimatnya terpotong-potong tak jelas. "Sebenarnya, aku..." Lanjutnya tak melanjutkan.

Asti melirik ke arah Iqbal. "Suka sama loe." Ujar Asti cepat. Ia menunduk.

"APA? Gue?" Tunjuk Iqbal pada wajahnya. Ia tersentak tak percaya.

Gadis itu mengangguk.

"Lalu?" Tanya Iqbal lagi, seolah ingin mengeduk isi pikiran gadis itu.

"Gue mau jadi pacar loe, Bal." Katanya malu-malu.

"Maksudnya loe ngajak gue pacaran, gitu?" Tanya Iqbal tersenyum, membuat Asti semakin dag-dig-dug.

"I... I.. Iya.." Ucap Asti tertatih-tatih. "Kita jadian ya?" Lanjutnya penuh harap.
"Gak, ah!" Jawab Iqbal enteng.

Asti cemberut.

"Kenapa? Loe udah punya gebetan ya?" Terkanya asal ceplos.

"Bukan,"

"Terus?"

"Kita kan masih kecil. Kalau sampe nyokap gue tau lw anak kesayangannya ini pacaran, bisa digorok leher gue!. Lu juga, As!."

"Gue?" Tanyanya bingun.

"Iyalah. Loe kagak takut ma nyokap loe?” Asti menunduk. “ Loe punya banyak teman yang baik banget sama loe. Loe juga punya sahabat yang sangat peduliin loe. Gak perlu deh yang namanya pacaran." Lanjut Iqbal panjang x lebar menjelaskan.

Asti mengangguk-angguk memahami kata demi kata yang diucapkan idolanya itu. Ada rasa malu dalam hatinya.

"Bal.. Iqbal... Iqbaaal!" Tiba-tiba 3 orang anak seusianya berlarian memanggil-manggil nama Iqbal. Ya. Mereka adalah Kiki, Aldi, dan Bastian. Sahabat Iqbal.

"Asti, gue pergi dulu ya.. Sahabat-sahabat gue pada nyariin tuh!." Ujarnya pelan sambil meliriki ketiga orang itu.

Sekali lagi, Iqbal tersenyum pada Asti. Namun Asti tetap terdiam, hingga Iqbal ahirnya berlari menghampiri ke-3 sahabatnya.

Asti masih berdiri di atas bukit itu. Ia melihat bagaimana bahagianya empat sekawan itu. Asti segera teringat pada sahabatnya, Jihan. Ia sangat ingin meminta maaf padanya. Tapi tiba-tiba pandangannya memburam. Langit mendung, dan semuanya berubah hitam.

***

"As.. Asti!, Asti bangun!.." Panggil sebuah suara sambil meneput pelan bahu Asti.

Asti mulai siuman. Beberapa kali ia mengguman, dan matanya mulai terbuka.

Senja telah berahir. Kini malam gulita telah menyapa. Asti membuka kelopak matanya, remang-remang didapatinya sebuah sosok anak manusia yang berada tepat di hadapannya.

Malam ini bulan purnama. Dari pantulan sang purnama, Asti dapat dengan jelas mengenali sosok itu. Dia Jihan, sahabatnya.

"Bruuk!" Asti tiba-tiba saja menubrukkan tubuhnya dalam pelukan Jihan. Seketika, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sahabatnya itu.
Jihan hanya bengong dibuatnya.

"Jihan.. Maafin gue ya!,. Maaf gue udah sempet lupain loe, udah lupain rencana liburan kita ke danau buat liat anak kura-kura yang baru menetas itu belajar berenag. Gue mau bilang ma Papa kalau gue gak mau jadi nonton konser Coboy Junior. Gue mau ngabisin liburan di sini aja sama loe. Maafin gue, Jihan!." Ujar Asti beruntut, seolah tak berikan jeda untuk Jihan dapat menjawabnya satu per satu. "Kita masih sahabatan kan, Jihan?" Suara Asti melemah. Ia menjulurkan tangannya kepada Jihan.

"Iya, Asti. Loe, Gue, best friend. Forever!" Tegas jihan menyambut uluran tangan Asti.

Mereka berpelukan di bawah guyuran sang Rembulan. Merajut untaian janji-janji persahabatan yang abadi. Dan bulan purnama di atas sana, telah menjadi saksi bisu tentang satu lagi indahnya kisah persahabatan dua anak manusia.


Ankasa, 19 November 2012.
01.30 - 04.00 WIB.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Anda pengunjung ke:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Rainbow After Tears - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template