Headlines News :
Home » » Ahir Penantian

Ahir Penantian

Written By Anis Khairunnisa on Senin, 14 April 2014 | 22.31





Terkadang aku menyerah. Bahkan.. kerap ku hampir putus asa. Saat ini aku benar-benar telah kehilangan semangat berfikir positif pada "Pebruari". Aku tak tau kenapa semua ini dapat terjadi. Apa salahku kepadanya dimasa lalu, sehingga sampai hati ia luapkan semua amarahnya tuk buatku menangis di sepanjang kunjungan itu?!..

Lelahku semakin berkobar dahsyat. Gemuruh petir di luar sana berkali-kali bergema mengguncangkan jiwaku. Membuatku semakin rapuh untuk melangkah, tuk kutiti jalan hidupku dengan aroma kasih dan kesejatian.  Aku lelah.. tak mampu lanjutkan perjalanan ini. Meskipun kucoba bangkit, tapi aku terus terjatuh dan kembali terjatuh. Dalam tasbih kasihku, tak luput kupanjatkan doa, agar Allah mengutus Jibril yang kan kirimkanku sesosok pangeran bertubuh kekar, yang datang ulurkan tangannya, bersedia bantuku berdiri dan mulai papah langkahku.

Meskipun harus tertatih, kan kubiarkan pada ahirnya tubuh ini bersandar tepiskan 'lelah' yang selama ini meraja, di bahunya. Meskipun harus tertatih, aku akan berjalan sejauh apapun tuk habiskan masaku dan terus berjalan tuk temukan kebahagiaan dengannya. Dan berharap suatu hari nanti ketika aku rapuh dan tak mampu membendung laranya tetesan butir bening, ia kan sudi hampiriku dengan ceria warna pelanginya menghapus sakitku. Usap air mataku dengan lemah lembutnya, dan dengan cintanya yang bertubi-tubi ia bersedia melangkah beriringan denganku, tuk tunjukkan aku betapa masih banyaknya keindahan di luar sana yang belum terjamah olehku.

Aku mau, meskipun kusadari takkan kudapatkan seorang raja yang mulia, sedangkan aku hanyalah hamba sahaya yang hina. Tapi aku mau dan terus kuyakinkan langkahku bahwa Pebruari kali ini akan kutemui cahaya hangat sang mentari, meskipun akulah sang Rembulan yang tak akan pernah bisa bertemu dan bersanding dengan gagah sinar Matahari, menyatukan cahaya cinta ini tuk terangi seluruh alam jagad raya.

Tak bisa bertemu!, tak akan pernah bersatu!

Karna Pebruari  tahun ini pun telah menyadarkanku tentang betapa riuhnya cinta semu yang aku punyai. Aku tak mau dengan ini!. Aku ingin jelajahi seluruh pesona dunia dengannya. Dengan Hitam-putih rahasia rasanya yang takkan terungkap mata dan pengertian akal. Tapi aku mau, sehingga aku terpuruk dan tak tau jalan mana yang akan mengantarkanku pada cahaya lembutnya, karena kebisuan jiwa, karena ketidak berdayaan diri ini yang tak pernah bisa muntahkan rasa yang selama ini ku tanggung.

Aku termenung dalam balutan mukenah sutra setelah melakukan ritual sembah-sujud kepada-Nya. Menangis aku mengadu kepada-Nya. Kuceritakan tentangku yang lemah tak berdaya, sehingga mau saja diriku diombang-ambingkan angin nakal kemanapun ia mau.

Aku tak setegar batu karang, sehingga aku hanyut dipermainkan gelombang laut. Aku rapuh, seorang yang tak mampu melangkah sendiri dan inginkan dia tuk temaniku dalam perjalanan panjang ini. Padahal aku tau,ia semu.. Tapi karna aku sudah terlampau lelah!!.. LELAH!

Aku lelah dan ingin sejenak bersandar manja di bahunya. Dibelai mesra rambutku oleh lembut tangannya,dan takkan sekalipun aku beranjak darinya. Karena aku lelah. Hanya sedikit lelah dan tak mau menyerah, bahkan putus asa. Masih banyak hari untukku mengejar hangat matahari. Meskipun sampai ku mati, dan ia hanyalah mimpi.

Bertahun-tahun aku berjalan. Kusingsingkan semua lelah yang terkadang singgah dan goyahkan penantianku. Aku melangkah dan terus melangkah. Hingga suatu ketika, aku bertemu dengan Pebruari nakal itu. Ia merayuku tuk sudahi saja semua. Tapi terlambat.  Telah terlampau dalam rasaku kepadanya. Hingga masaku, tak lagi ku pikirkan selain dia. Hanya dia.
Umurku semakin menua dan semakin rapuh tuk berdiri. Tuk kembali melangkah, dan tuk kutemukan kesejatian yang hakiki.

Hari itu… Awal Pebruari. Aku begitu lelah berjalan. Namun dengan semangat '45ku, terus kuayunkan langkah. Jauh kuberjalan. Sangat jauh. Kutinggalkan kampung halamanku hanya untuk mengejar mimpiku. Hanya karna hasratku yang begitu dalam merindukan Pebruariku.

Dalam perjalanan panjangku, kutemukan sebuah gubug tua yang rasanya tak lagi berpenghuni. Lelahku yang semakin menjadi terus saja memaksaku berhenti. Ada hasratku. Namun sungguh aku tak ingin lekas ahiri semua. Sekuat aku bisa, terus kupungkiri lelah langkahku. Kasur empuk berselimut wol sutra itu melambai-lambai merayuku. Memanggilku tuk sejenak saja singgah dan terlelap tepiskan lelah diatasnya. Bagai termagnet kutertarik masuk kedalam gubug itu. Sejuk aroma kasih yang selama ini aku mau, bertebaran memenuhi seluruh ruangan. Buatku rasakan damai dan terlena.

Lenaku pada pesonanya, lemahku yang hanyalah seorang wanita biasa. Diatas pembaringan itu, mataku mulai terpejam, dan "gelap!!" Aku tak dapat melihat apapun. Yang kurasa hanya kedamaian dan kesejukan yang sejak tadi menyelimuti tubuhku, enggan selangkahpun menjauh.

Aku terus mencari-cari celah cahaya untukku dapat keluar dari kegelapan ini. "Ahh..silau!!". Entah apa itu. Secerca sinar menyorot tajam tepat di mataku. Silau sinar itu aku rasakan terus mendekat dan semakin bertambah dekat. Entah darimana datangnya keberanian itu, ingin sekali kubuka kelopakku dan tantang tajam sinarnya. Dan aku tak lagi merasa sinar itu menyakiti mataku. Perlahan kucoba buka mataku, dan 'ahhh' tak pernah terfikir olehku ahirnya ini terjadi.

Dia ternyata memang ada. Dia.. Indah bercahaya melangkah megulurkan tangannya padaku. Sontak dia tersenyum padaku. Merangkulku dan semakin dekat. Dikibasnya pelan rambutku yang menghalangi daun telinga, dan dengan lembut ia berbisik "Aku datang.. Aku datang sayangku. Aku datang menjemputmu, tuk pertemukanmu dengan cinta-kasihmu yang hakiki."
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Anda pengunjung ke:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Rainbow After Tears - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template