Terkadang aku menyerah. Bahkan.. kerap ku hampir
putus asa. Saat ini aku benar-benar telah kehilangan semangat berfikir positif
pada "Pebruari". Aku tak tau kenapa semua ini dapat terjadi. Apa
salahku kepadanya dimasa lalu, sehingga sampai hati ia luapkan semua amarahnya
tuk buatku menangis di sepanjang kunjungan itu?!..
Lelahku semakin berkobar dahsyat. Gemuruh petir di
luar sana berkali-kali bergema mengguncangkan jiwaku. Membuatku semakin rapuh
untuk melangkah, tuk kutiti jalan hidupku dengan aroma kasih dan kesejatian. Aku lelah.. tak mampu lanjutkan perjalanan
ini. Meskipun kucoba bangkit, tapi aku terus terjatuh dan kembali terjatuh. Dalam
tasbih kasihku, tak luput kupanjatkan doa, agar Allah mengutus Jibril yang kan
kirimkanku sesosok pangeran bertubuh kekar, yang datang ulurkan tangannya, bersedia
bantuku berdiri dan mulai papah langkahku.
Meskipun harus tertatih, kan kubiarkan pada ahirnya
tubuh ini bersandar tepiskan 'lelah' yang selama ini meraja, di bahunya.
Meskipun harus tertatih, aku akan berjalan sejauh apapun tuk habiskan masaku
dan terus berjalan tuk temukan kebahagiaan dengannya. Dan berharap suatu hari
nanti ketika aku rapuh dan tak mampu membendung laranya tetesan butir bening, ia
kan sudi hampiriku dengan ceria warna pelanginya menghapus sakitku. Usap air
mataku dengan lemah lembutnya, dan dengan cintanya yang bertubi-tubi ia
bersedia melangkah beriringan denganku, tuk tunjukkan aku betapa masih
banyaknya keindahan di luar sana yang belum terjamah olehku.
Aku mau, meskipun kusadari takkan kudapatkan seorang
raja yang mulia, sedangkan aku hanyalah hamba sahaya yang hina. Tapi aku mau
dan terus kuyakinkan langkahku bahwa Pebruari kali ini akan kutemui cahaya
hangat sang mentari, meskipun akulah sang Rembulan yang tak akan pernah bisa
bertemu dan bersanding dengan gagah sinar Matahari, menyatukan cahaya cinta ini
tuk terangi seluruh alam jagad raya.
Tak bisa bertemu!, tak akan pernah bersatu!
Karna Pebruari tahun ini pun telah menyadarkanku tentang
betapa riuhnya cinta semu yang aku punyai. Aku tak mau dengan ini!. Aku ingin
jelajahi seluruh pesona dunia dengannya. Dengan Hitam-putih rahasia rasanya
yang takkan terungkap mata dan pengertian akal. Tapi aku mau, sehingga aku
terpuruk dan tak tau jalan mana yang akan mengantarkanku pada cahaya lembutnya,
karena kebisuan jiwa, karena ketidak berdayaan diri ini yang tak pernah bisa
muntahkan rasa yang selama ini ku tanggung.
Aku termenung dalam balutan mukenah sutra setelah
melakukan ritual sembah-sujud kepada-Nya. Menangis aku mengadu kepada-Nya.
Kuceritakan tentangku yang lemah tak berdaya, sehingga mau saja diriku
diombang-ambingkan angin nakal kemanapun ia mau.
Aku tak setegar batu karang, sehingga aku hanyut
dipermainkan gelombang laut. Aku rapuh, seorang yang tak mampu melangkah
sendiri dan inginkan dia tuk temaniku dalam perjalanan panjang ini. Padahal aku
tau,ia semu.. Tapi karna aku sudah terlampau lelah!!.. LELAH!
Aku lelah dan ingin sejenak bersandar manja di bahunya.
Dibelai mesra rambutku oleh lembut tangannya,dan takkan sekalipun aku beranjak
darinya. Karena aku lelah. Hanya sedikit lelah dan tak mau menyerah, bahkan
putus asa. Masih banyak hari untukku mengejar hangat matahari. Meskipun sampai ku
mati, dan ia hanyalah mimpi.
Bertahun-tahun aku berjalan. Kusingsingkan semua
lelah yang terkadang singgah dan goyahkan penantianku. Aku melangkah dan terus
melangkah. Hingga suatu ketika, aku bertemu dengan Pebruari nakal itu. Ia
merayuku tuk sudahi saja semua. Tapi terlambat. Telah terlampau dalam rasaku kepadanya. Hingga
masaku, tak lagi ku pikirkan selain dia. Hanya dia.
Umurku semakin menua dan semakin rapuh tuk berdiri.
Tuk kembali melangkah, dan tuk kutemukan kesejatian yang hakiki.
Hari itu… Awal Pebruari. Aku begitu lelah berjalan.
Namun dengan semangat '45ku, terus kuayunkan langkah. Jauh kuberjalan. Sangat
jauh. Kutinggalkan kampung halamanku hanya untuk mengejar mimpiku. Hanya karna
hasratku yang begitu dalam merindukan Pebruariku.
Dalam perjalanan panjangku, kutemukan sebuah gubug
tua yang rasanya tak lagi berpenghuni. Lelahku yang semakin menjadi terus saja
memaksaku berhenti. Ada hasratku. Namun sungguh aku tak ingin lekas ahiri
semua. Sekuat aku bisa, terus kupungkiri lelah langkahku. Kasur empuk
berselimut wol sutra itu melambai-lambai merayuku. Memanggilku tuk sejenak saja
singgah dan terlelap tepiskan lelah diatasnya. Bagai termagnet kutertarik masuk
kedalam gubug itu. Sejuk aroma kasih yang selama ini aku mau, bertebaran
memenuhi seluruh ruangan. Buatku rasakan damai dan terlena.
Lenaku pada pesonanya, lemahku yang hanyalah seorang
wanita biasa. Diatas pembaringan itu, mataku mulai terpejam, dan
"gelap!!" Aku tak dapat melihat apapun. Yang kurasa hanya kedamaian
dan kesejukan yang sejak tadi menyelimuti tubuhku, enggan selangkahpun menjauh.
Aku terus mencari-cari celah cahaya untukku dapat
keluar dari kegelapan ini. "Ahh..silau!!". Entah apa itu. Secerca
sinar menyorot tajam tepat di mataku. Silau sinar itu aku rasakan terus
mendekat dan semakin bertambah dekat. Entah darimana datangnya keberanian itu,
ingin sekali kubuka kelopakku dan tantang tajam sinarnya. Dan aku tak lagi
merasa sinar itu menyakiti mataku. Perlahan kucoba buka mataku, dan 'ahhh' tak
pernah terfikir olehku ahirnya ini terjadi.
Dia ternyata memang ada. Dia.. Indah bercahaya
melangkah megulurkan tangannya padaku. Sontak dia tersenyum padaku. Merangkulku
dan semakin dekat. Dikibasnya pelan rambutku yang menghalangi daun telinga, dan
dengan lembut ia berbisik "Aku datang.. Aku datang sayangku. Aku datang
menjemputmu, tuk pertemukanmu dengan cinta-kasihmu yang hakiki."


