Setengah bulan sudah kita berada di bulan ramadhan. Rasanya bangga, karena aku sudah berusaha keras untuk menjalankan perintah Tuhanku dan meninggalkn larangannya. Meski ku akui, aku sering bersikap menjauh dari-Nya, setiap kali aku tak suka dengan keputusan-Nya.
Aku termenung di suatu sudut taman kota dengan diterangi oleh cahaya lembut rembulan. Malam ini malam purnama. Indah sekali ... Di taman ini, tak sedikit pasangan yang menyempatkan 'mampir' untuk sekedar menyaksikan atraksi penduduk langit yang samgat menakjubkan, Maha karya Tuhan, Sang pemilik Semesta.
Aku menghadapkan wajahku ke langit . Dan, betapa aku pesona melihat para bintang nakal itu menari-nari manja mengeliling cahaya tajam sang bulan. Aksi yang segera saja mampu ciptakan damai pada setiap mata yang memandang. Aku pun demikian. Rasanya ada kesejukkan yang merasuk jiwaku dan memaksa bibirku untuk berkata “subhanallah.. maha besar Engkau ya Allah..’’
Kini aku tak gundah lagi. Tidak seperti ketika aku belum menganyunkan langkah pertamaku untuk ke sini. Awalnya pun, niatku ke sini untuk menangis . Hanya menangis ... Menangis untuk meratapi keadaanku, yang sebenarnya aku sendirilah yang membuatnya tak indah .
Kau tau bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya??.. Ia menangis. Karna ia tak mengenal siapapun saat itu. Ia merasa takut. Padahal, sang bunda tak pernah lepas memeluknya. Tapi ia menangis. Ia terus saja menangis.. Ia tak tau kalau orang-orang disekelilingnya sangat menyayanginya. Ia merasa sendiri dan asing. Karna ia memang seorang bayi yang baru dilahikan.
Tapi aku, aku juga seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibuku. Aku merasa sendiri dan asing. Aku menangis.. aku terus saja menangis. Tanpa mau tau, bahwa disekitaku banyak sekali orang-oang yang kagum pada sosokku dan mencintaiku. Tapi aku menangis. Aku terus saja menangis.. yang sebenarnya aku takut untuk menantang diriku sendiri.
Aku terlalu ego untuk berfikir ‘aku salah’. Aku salah apabila menilai mereka tak sayang, yang aku lebih dulu berkata “Tidak ada orang yang mencintaiku”.
Aku tlah sia-siakan cintakku
sendiri, aku tlah acuhkan orang-orang yang mencintaiku. Hilir mudik kucari
cinta, namun yang ku gapai hanyalah senyumanis sesaat untuk air mata yang
terikat.
Aku buta. . . .
Aku buta. . . .
Aku tak dapat melihat betapa
besar kasih sayang mereka padaku.
Aku tuli. . .
Aku tak dapat mendengar syair
cinta yang mereka lantunkan untukku.
Menurutku, cinta sejati adalah kata-kata sayang. Belaian penuh kasih yang selalu membelaku, tanpa peduli apa aku salah. Perlakuan padaku yang mereka sebut cinta, bagiku adalah belaian-belaian penuh benci yang selalu menghantuiku. Karena peduli, aku salah.
Aku terlalu egois untuk coba pelajari ini. untuk mendengarkan mereka apa itu cinta. Aku terus saja mengecap mereka ‘tak sayang’, padahal tak seperti itu. Mereka sayang.. bahkan, mereka adalah cinta yang lebih dari apa yang pernah aku bayakan.
Ternyata aku sendirilah yang mempersilahkan diriku ini untuk hancur oleh ketidak dayaan, dari pada berproklamasi “kalian mencintaiku dan aku di dunia ini tidak pernah sendiri”.
Aku egois. Aku sangat egois!!!, hanya berkata demikian saja aku malu. Malu yang sebenarnya aku justru menjatuhkan martabatku sendiri kejurang yag lebih memalukan dari pada ini . Yaitu dengan aku terus saja merajakan egoku seperti ini. Kau tau?, Aku telah menukar orang-orang yang sudah jelas mereka mencitaiku dan bersedia memapahku dari keterpurukan ini dengan orang-orang yang bahkan belum aku kenal. Yang mungkin saja mereka memusuhiku dan tak sebaik orang-orang yang sudah kupunyai sekarang.
Namun karna egoku, semuanya terjadi... Menjadi hal buruk dalam hidupku. Aku menyalahkan keadaan. Padahal siapa yang salah??..
Ankasa, Purnama di malam Ramadhan
2010.


