"Sandra.. Sandra bangun Sandra,banguuun!! "
Suara itu berkali-kali memanggilku. Pagi ini aku masih terlelap Jauh ke alam dimana semalam aku berada. Tapi aku mendengar suara itu. Rintih lembut sayu suara Maria yang sejak tadi membujukku tuk segera tinggalkan semua mimpi indahku.
"Aku mendengarmu, Maria. Namun rasanya aku begitu lelah, sehingga untuk sekedar membuka kelopak mataku saja aku tak kuasa" Desahku dalam diam.
Aku lelah sekali. Entah mimpi macam apa yang semalam telah kulalui. Aku hanya bisa mendengar suara Maria dengan sangat jelas. Aku hanya bisa merasakan kehadirannya merangkulku dengan penuh cemas. Tanpa aku dapat memandang wajahnya, mengusap bulir bening yang kurasakan deras mengalir di pipi tembamnya, tanpa aku dapat menggenggam tangannya dan berkata: "Maria sahabatku.. tenanglah Maria!. Aku tak mengapa. Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah.."
Maria. Oh, Maria..
Engkau sahabatku. Engkaulah tempatku mengadu dan bercerita. Kaupun tau semua tentang perasaanku. Tak pernah aku menyembunyikan sepotongpun puzzle kisah hidupku darimu. Tidak Maria. Tak pernah!. Maria.. Ingatkah kala hari mulai senja? Setelah seharian kita bermain berria, aku dan kamu duduk terletih di atas serpihan pasir putih di pinggir pantai. Hanya aku dan kamu di padang senja. Bulatan orange sisa-sisa dari pembakaran tajam sinar mentari memandikan tubuh kita dan mengguyur segenap lelah dalam tubuh kita. Menumbuhkan lagi satu harapan indah tuk fajar esok.
Aku tersenyum memandangimu. Kau biasa tertawa di ahir perjumpaan kita, sambil kau mainkan air pantai dengan tanganmu. Terkadang, kau percikkan air itu kepadaku sehingga mau tak mau aku harus membalasnya. Senja di pantai yang begitu megah dan mempesona. Gelombang-gelombang air pantai yang sesekali menyapa, membuat kita kembali larut dalam keceriaan, membuat kita seakan enggan berpisah.
Adzan maghriblah yang selalu dapat menghentikan permainan kita. Di setiap senja, kala adzan memanggil..
"Pulang yuuk!" ajakku.
"Eh,iya nih. Udah maghrib aja. Aku pulang ya San". Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Rumah kita bersimpang jalan. Jadi kita pasti akan selalu berpisah di ujung senja. Selalu. Selalu seperti itu. Dan seperti biasa pula, akan selalu ada seorang lelaki bersandar pada pohon kelapa yang teduh. Dia seperti menatapku, yang aku sendiri tak pernah tau apa makna dari tatapannya itu.
Aku selalu melihatnya larut dalam menatapku di penghujung senja, setiap aku hendak beranjak pulang. Sepertinya ia menungguiku. Dia tersenyum padaku. Karena aku yakin tak pernah ada siapapun disana selain aku. Dia begitu gagah dan memikatku. Sehingga pesonanya yang dibalut senja tak pernah buatku mampu mengelak tuk membalas senyumannya. Dan setelah itu,dia berbalik arah. Berlalu dariku, kemudian menghilang dari pandanganku. Entah kemana..
Seusai aku melaksanakan ritual sembah sujud kepada-Nya, dengan masih berbalut mukenah sutra, aku kerap mentafakkuri setiap bait keindahan karya terbesar-Nya.
Maria..
Pemandangan pantai..
Gemuruh ombak..
Kemegahan padang senja..
Dan,ah!
Itu dia. Lelaki misterius yang selalu menungguiku di bawah teduh rindang pohon kelapa,di setiap senja.
Baru kali ini ada seorang lelaki seolah mengajak batinku tuk bercengkrama. Rasanya memang tak pernah sebelumnya seperti ini.
Kehadirannya yang kaku, membuatku lebih puas menyelidikinya. Mencoba menghitung lebih tepat setiap bait keindahan baru yang ia ciptakan untukku. Mencoba merasakan seberapa kuat sinyal rasa yang ia kirimkan padaku, sehingga dengan sekejap saja getaran kasih darinya telah sanggup mengalir ke seluruh urat di nadiku. Mencoba memikirkan kemegahan rasa yang entah kan bermuara di mana, serta menikmati kesempurnaan pesona yang terkumpul di setiap tatap mata.
Maria.. Namun detik-detik yang kuhabiskan bersamamu lebih aku sukai, dari pada memantang tatap teduh indahnya. Aku lebih suka menemanimu menangis di setiap ujung senja, daripada aku berbahagia ria melihatnya begitu indah bercahaya dibalut pesona senja. Aku lebih memilih tetap tinggal denganmu dan mengusap sejuta kesakitanmu, daripada aku memenuhi ajakkan hasrat hatiku tuk mulai meraih jemarinya dan tersenyum bahagia bersamanya.
Tapi seperti yang engkau tau, engkaupun terpikat olehnya, bukan? Engkau sering katakana dia mencintaimu. Kau tanya pendapatku tentang dirinya, aku bingung. Tapi tenanglah Maria!, aku tak akan menghalagi perasaanmu. Sama sekali tidak. Hanya saja satu hal yang perlu kau tau, bahwa lelaki yang sama juga memberikanku harapan bercinta lebih, dan itu sudah lama.
Semalam dia datang dalam mimpiku, Maria. Dia katakana segala keburukanmu, bahkan yang sama sekali tak pernah kutau itu ada pada dirimu. Mulutnya tak henti mengeja setiap cacatmu. Aku tak percaya, Maria. Aku meronta menutupi kedua telingaku. Tapi tak bisa. Suaranya menggelegar menyakiti pendengaranku, hingga aku hanya dapat menangis berusaha tak mendengarnya.
Ah, aku ingat beberapa hari ini kau diamkanku. Kenapa, Maria? Kau tak pernah ceritakan apa salahku. Apa karena lelaki itu telah lebih dulu datang ke mimpimu dan menjelekkan aku? Apa dia mencaciku dengan lidah menganga yang tak henti kobarkan ucapan neraka, Maria? Kumohon jangan percaya padanya. Dia bukan manusia biasa, apalagi pangeran berkuda putihmu, Maria. Dia iblis yang sedang mengadu domba persahabatan kita. Buka mata hatimu, Maria!. Bantu aku bangun dari mimpi menyakitkan ini!. Aku masih ingin bermain di penghujung senja bersamamu, Maria!. Menikmati deru gemericik ombak pantai dalam guyuran sinar orange, dengan tetes-tetes kebahagiaan dan harapan kita tuk esok hari. Tentu. Tanpa lelaki itu.
Aku mencintaimu, Maria.. Kau sahabatku. Kau saudaraku. Mengertilah jika keindahannya hanya segelintir batu kerikil kecil jika dibandingkan dengan kemegahan persahabatan kita. Ia hanyalah kabut perusak keindahan padang senja kita berdua, Maria..
-ankasa-
Suara itu berkali-kali memanggilku. Pagi ini aku masih terlelap Jauh ke alam dimana semalam aku berada. Tapi aku mendengar suara itu. Rintih lembut sayu suara Maria yang sejak tadi membujukku tuk segera tinggalkan semua mimpi indahku.
"Aku mendengarmu, Maria. Namun rasanya aku begitu lelah, sehingga untuk sekedar membuka kelopak mataku saja aku tak kuasa" Desahku dalam diam.
Aku lelah sekali. Entah mimpi macam apa yang semalam telah kulalui. Aku hanya bisa mendengar suara Maria dengan sangat jelas. Aku hanya bisa merasakan kehadirannya merangkulku dengan penuh cemas. Tanpa aku dapat memandang wajahnya, mengusap bulir bening yang kurasakan deras mengalir di pipi tembamnya, tanpa aku dapat menggenggam tangannya dan berkata: "Maria sahabatku.. tenanglah Maria!. Aku tak mengapa. Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah.."
Maria. Oh, Maria..
Engkau sahabatku. Engkaulah tempatku mengadu dan bercerita. Kaupun tau semua tentang perasaanku. Tak pernah aku menyembunyikan sepotongpun puzzle kisah hidupku darimu. Tidak Maria. Tak pernah!. Maria.. Ingatkah kala hari mulai senja? Setelah seharian kita bermain berria, aku dan kamu duduk terletih di atas serpihan pasir putih di pinggir pantai. Hanya aku dan kamu di padang senja. Bulatan orange sisa-sisa dari pembakaran tajam sinar mentari memandikan tubuh kita dan mengguyur segenap lelah dalam tubuh kita. Menumbuhkan lagi satu harapan indah tuk fajar esok.
Aku tersenyum memandangimu. Kau biasa tertawa di ahir perjumpaan kita, sambil kau mainkan air pantai dengan tanganmu. Terkadang, kau percikkan air itu kepadaku sehingga mau tak mau aku harus membalasnya. Senja di pantai yang begitu megah dan mempesona. Gelombang-gelombang air pantai yang sesekali menyapa, membuat kita kembali larut dalam keceriaan, membuat kita seakan enggan berpisah.
Adzan maghriblah yang selalu dapat menghentikan permainan kita. Di setiap senja, kala adzan memanggil..
"Pulang yuuk!" ajakku.
"Eh,iya nih. Udah maghrib aja. Aku pulang ya San". Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Rumah kita bersimpang jalan. Jadi kita pasti akan selalu berpisah di ujung senja. Selalu. Selalu seperti itu. Dan seperti biasa pula, akan selalu ada seorang lelaki bersandar pada pohon kelapa yang teduh. Dia seperti menatapku, yang aku sendiri tak pernah tau apa makna dari tatapannya itu.
Aku selalu melihatnya larut dalam menatapku di penghujung senja, setiap aku hendak beranjak pulang. Sepertinya ia menungguiku. Dia tersenyum padaku. Karena aku yakin tak pernah ada siapapun disana selain aku. Dia begitu gagah dan memikatku. Sehingga pesonanya yang dibalut senja tak pernah buatku mampu mengelak tuk membalas senyumannya. Dan setelah itu,dia berbalik arah. Berlalu dariku, kemudian menghilang dari pandanganku. Entah kemana..
Seusai aku melaksanakan ritual sembah sujud kepada-Nya, dengan masih berbalut mukenah sutra, aku kerap mentafakkuri setiap bait keindahan karya terbesar-Nya.
Maria..
Pemandangan pantai..
Gemuruh ombak..
Kemegahan padang senja..
Dan,ah!
Itu dia. Lelaki misterius yang selalu menungguiku di bawah teduh rindang pohon kelapa,di setiap senja.
Baru kali ini ada seorang lelaki seolah mengajak batinku tuk bercengkrama. Rasanya memang tak pernah sebelumnya seperti ini.
Kehadirannya yang kaku, membuatku lebih puas menyelidikinya. Mencoba menghitung lebih tepat setiap bait keindahan baru yang ia ciptakan untukku. Mencoba merasakan seberapa kuat sinyal rasa yang ia kirimkan padaku, sehingga dengan sekejap saja getaran kasih darinya telah sanggup mengalir ke seluruh urat di nadiku. Mencoba memikirkan kemegahan rasa yang entah kan bermuara di mana, serta menikmati kesempurnaan pesona yang terkumpul di setiap tatap mata.
Maria.. Namun detik-detik yang kuhabiskan bersamamu lebih aku sukai, dari pada memantang tatap teduh indahnya. Aku lebih suka menemanimu menangis di setiap ujung senja, daripada aku berbahagia ria melihatnya begitu indah bercahaya dibalut pesona senja. Aku lebih memilih tetap tinggal denganmu dan mengusap sejuta kesakitanmu, daripada aku memenuhi ajakkan hasrat hatiku tuk mulai meraih jemarinya dan tersenyum bahagia bersamanya.
Tapi seperti yang engkau tau, engkaupun terpikat olehnya, bukan? Engkau sering katakana dia mencintaimu. Kau tanya pendapatku tentang dirinya, aku bingung. Tapi tenanglah Maria!, aku tak akan menghalagi perasaanmu. Sama sekali tidak. Hanya saja satu hal yang perlu kau tau, bahwa lelaki yang sama juga memberikanku harapan bercinta lebih, dan itu sudah lama.
Semalam dia datang dalam mimpiku, Maria. Dia katakana segala keburukanmu, bahkan yang sama sekali tak pernah kutau itu ada pada dirimu. Mulutnya tak henti mengeja setiap cacatmu. Aku tak percaya, Maria. Aku meronta menutupi kedua telingaku. Tapi tak bisa. Suaranya menggelegar menyakiti pendengaranku, hingga aku hanya dapat menangis berusaha tak mendengarnya.
Ah, aku ingat beberapa hari ini kau diamkanku. Kenapa, Maria? Kau tak pernah ceritakan apa salahku. Apa karena lelaki itu telah lebih dulu datang ke mimpimu dan menjelekkan aku? Apa dia mencaciku dengan lidah menganga yang tak henti kobarkan ucapan neraka, Maria? Kumohon jangan percaya padanya. Dia bukan manusia biasa, apalagi pangeran berkuda putihmu, Maria. Dia iblis yang sedang mengadu domba persahabatan kita. Buka mata hatimu, Maria!. Bantu aku bangun dari mimpi menyakitkan ini!. Aku masih ingin bermain di penghujung senja bersamamu, Maria!. Menikmati deru gemericik ombak pantai dalam guyuran sinar orange, dengan tetes-tetes kebahagiaan dan harapan kita tuk esok hari. Tentu. Tanpa lelaki itu.
Aku mencintaimu, Maria.. Kau sahabatku. Kau saudaraku. Mengertilah jika keindahannya hanya segelintir batu kerikil kecil jika dibandingkan dengan kemegahan persahabatan kita. Ia hanyalah kabut perusak keindahan padang senja kita berdua, Maria..
-ankasa-

