Headlines News :
Home » » Maunya sih JODOH

Maunya sih JODOH

Written By Anis Khairunnisa on Senin, 14 April 2014 | 20.39



Repost, Pebruari 2013.

Kapok Mencinta


Langit semakin hitam. Jingga matahari telah benar-benar tertutup awan gelap. Hujan rintik bersama hembusan angin nakal yang seringkali menghempaskan daun-daun kering serta tetesan air langit pada jendela dan atap seng itu, menimbulkan bunyi gemericik nada alam yang sangat indah hingga mampu mengusik keasyikanku membaca kumpulan cerpen remaja karya Ana Merya, yang semenjak pulang sekolah tadi tak lepas dari tanganku.


Samar-samar suara Kang Epul dari speaker tumpang tindih bersamaan dengan gelegar symponi alam. Harusnya sekarang aku berada di ruangan yang sama mengikuti pengajian tilawah bersama beliau, tapi karena tamu kewanitaanku belum juga beranjak, jadi aku tetap di kamar. Seingatku ada santri lain yang juga dikunjungi sama sepertiku, tapi aku lupa namanya, kalau tidak salah, biasanya anak kamar memanggilnya dengan sebutan ‘Ndha’. Sepertinya dia sedang di kamar mandi, atau mungkin saja sudah tidur di kamar sebelah. Entahlah. Yang jelas aku sangat menikmati kencanku malam ini dengan buaian lembut suara sang hujan.

Tenggorokanku terasa kering. Sejuknya udara yang mengiring hujan ternyata tak mampu menyelip masuk ke tenggorokanku. Dengan malas aku bangkit dan mulai melangkah menuju kamar besar, karena galon air minum santri hanya boleh diletakkan di sana. Asrama yang kuhuni ini memiliki dua kamar, kamar kecil dan kamar besar. Semua santri bebas mau tinggal di kamar yang mana, hanya saja kamar kecil yang ukurannya sekitar 1/4 dari kamar besar ini terkenal angker sehingga sedikit sekali yang berani menempatinya.

Aku meraih gelas plastik berwarna hijau muda itu kemudian mulai memindahkan air dalam galon sedikit demi sedikit hingga penuh setengah gelasku. Setelah berucap ‘Bismillah’ aku meminumnya perlahan. Air yang mengalir dalam tenggorokanku ini terasa sangat segar, “Alhamdulillah”, batinku. Belum habis aku meneguknya, tiba-tiba saja telingaku menangkap suara isak tangis tertahan. Pandanganku liar mencari-cari sumber suara itu. Di pojok kanan kamar, aku mendapati tubuh seorang wanita. Ia berbaring menghadap belakang, kepalanya ditutupi bantal tapi aku masih bisa melihat rambutnya yang terurai panjang, sedangkan tubuhnya bergetar mengikuti hentak suara isakan yang sejak tadi kudengar. Mungkin ia sedang menangis, pikirku.

Aku mendekatinya. Kurasa dia itu yang namanya Ndha, aku tak begitu kenal dengannya. Kucoba menyentuh pundaknya pelan, tapi ia tersentak. Ia cepat-cepat berpaling ke arahku. Benar dugaanku, sepasang kelopak matanya basah oleh air mata. 

“Eh, Mba..” Ucapnya setengah terkejut melihatku. Gadis itu mengusap wajahnya dengan sarung biru lebam yang tengah dikenakannya. Aku tersenyum.

“Kenapa?” Tanyaku pelan-pelan, takut kalau-kalau ucapanku justru akan semakin menyakitinya.

“Tadi Ndha minta putus sama pacarku. Tapi Ndha malah bingung. Hehe..” Paparnya sambil tertawa kecil menyembunyikan sisa-sisa kepedihan dari air matanya barusan.

“Minta putus sendiri, tapi bingung sendiri? Bingung kenapa?” Tanyaku mengernyitkan dahi, mulai penasaran.

Wanita muda di depanku yang memang benar dipanggil “Ndha” itu membenarkan posisi duduknya. Ia menyender pada lemari besar yang berada di paling pojok, lalu terdiam cukup lama. Aku masih menungguinya membuka suara di samping kirinya sambil sesekali meneguk air minumku. Tiba-tiba aku melihat butiran bening menetes bersamaan dari kedua sudut matanya. Aku lebih memilih diam, tak berani bicara atau bertanya apapun. Kusuguhkan gelasku yang masih berisi sepertiga air itu padanya, ia lalu menerima dan mulai meminum air itu hingga habis.

“Menurut Mba, tindakanku salah gak sih?” Ia balik bertanya mengabaikan pertanyaanku yang lebih dulu kulontarkan. Ia menghadap padaku, dan diletakkannya gelas itu di sampingku.

“Salah sih enggak, cumaaa…” Jawabku terputus. Bingung.

“Cuma apa?” Sorotan matanya menatapku tajam seolah mengintrogasi seorang maling terong.

“Cumaaa bener.” Lanjutku enteng sambil nyengir kuda.

“Jadi Ndha musti gimana?”

“Kok musti gimana, katanya tadi udah putus?”

“Iya sih, tapi dia ngancem terus, Mba..”

“Lah, itu salah satu alasan kenapa keputusanmu putus dari dia adalah pilihan yang benar. Karena dia itu bukan orang baik. Orang baik kok ngancem-ngancem.” Ujarku berapi-api.

“Iya, setuju!” Responnya pendek sambil tersenyum dan mengangguk dua kali. Aku juga tersenyum, mengimbangi senyumannya yang lincah menari-nari di udara. Lalu tiba-tiba kami tertawa hampir bersamaan. Entah karena apa.

“Ndha baru kali ini pacaran loh, Mba. Dan gak mau lagi ah.”  Ucapnya tiba-tiba, seperti membanggakan.

“Aku belum pernah, dan gak akan pernah.” Timpalku tak kalah bangga.

“Hah, yang bener? Kok bisa?”

“Iya nih, belum dapat hidayah buat pacaran.” Jawabku asal, membuat gadis itu terbengong beberapa saat sebelum ahirnya...

“Heh? Buahahaha.. Ih si Mba, pacaran kok hidayah sih?, Tapi hebat gak mau pacaran. Humm.. Ndha pas hari terahir UN SMP tuh ditembak dia. Pengen tau aja gimana rasanya pacaran. Hehe...” Katanya mulai bercerita.

“Ciee yang udah tau rasanya pacaran. Baru berapa bulan aja udah minta putus.” Ledekku asal.

“Ya abisnya Ndha gak nyaman. Dia ngajakin jalan terus. Kalau Ndha lagi pulang dari asrama juga ngajakinnya ketemuan di luar rumah, kan Ndha pulang pengen ngumpul-ngumpul sama keluarga. Lagian takut ah, Mba.” Lanjutnya menyipitkan matanya, mencibir fatamorgana.

“Takut kenapa?”
 
“Takut ada setan.” Jawabnya cepat.

“Hehe, Iya. Bener begitu, Ndha.” Dukungku. “Ya udah, sekarang sih fokus mesantren sama sekolah aja dulu. Jodoh nanti kalau sudah waktunya juga dipertemukan sama si Pemilik Cinta. Nikah tanpa pacaran itu gak dosa kok.” Hiburku.

Gadis bermata bundar itu tersenyum renyah sekali. Kami mulai beralih ke satu topik ke topik yang lain. Hanya yang aku bingungkan, kenapa dia memanggilku terus-terusan dengan sebutan “Mba”, padahal kami satu angkatan. Ah, mungkin saja dia juga tidak mengetahui siapa namaku, terkaku dalam diam.

***

“Heyyyyyyyyyyyyyyyyy!, Mba bobo yuuk!,” Ajak adik kelasku yang sejak awal masuk pesantren ini sudah akrab denganku.

“Eh, Balala.. Udah selesai tah pengajiannya?” Tanyaku mendapati sosok yang sangat kukenali memasang wajah lelahnya di hadapanku itu. Ia mengangguk dan menjulurkan tangan kanannya padaku.. “Oke deh, ayo let’s kita bobo!” Lanjutku meraih telapak tangannya, lalu berdiri. “Besok kita lanjutin lagi ya Ndha. Dadaaaaa…” Kataku sambil berlalu, karena tanganku sudah lebih dulu ditarik Balala.

Aku dan Balala adalah penghuni kamar besar. Tapi kami lebih suka tidur di ruang tengah dan mematikan lampu penerangnya. Ini adalah ruangan terbuka di antara kamar besar dan kamar kecil yang siangnya biasa digunakan para santri untuk belajar. Tapi jika lampunya sudah dimatikan, maka ruangan ini akan benar-benar gelap total.

Sejak malam itu aku mulai mengenal Ndha dan kami terlihat lebih sering bersama. Ia tidak banyak bercerita tentang hidupnya, tidak tentang masa lalunya, tidak juga tentang ataupun yang sedang ia rasakan saat itu juga. Begitulah seorang Ndha. Misterius.

***

Besok adalah hari Sabtu. Pengambilan kartu test semester pertamaku di MAN Buntet Pesantren Cirebon ini. Sudah setengah tahun aku merengkuh ilmu di Buntet-ku, tapi tetap saja aku merasa belum pandai apa-apa. Kuhembuskan napasku berat memikirkan pelajaran kehidupan apa saja yang sengaja atau pun tidak sengaja sudah kudapatkan dari Buntet. Ah, entahlah. Aku terlalu buta untuk membaca deretan pengalamanku sendiri.

Jam menunjuk pada angka 11 dan 12. Sudah terlarut malam. Kulirik Balala, ia sudah asyik memeluk bantal gulingnya dan terlelap jauh dalam alam mimpi. Mataku mulai berat, kurebahkan tubuhku beralaskan lantai lalu kekemulkan kasur lantai biru bermotifkan bunga mawar merah ke sekujur tubuh hingga menutupi kepala, ini melindungi agar tubuhku tidak menjadi santap malam pasukan nyamuk.

***
Pandangan Pertama

“Wah, Mba Ida.. Ternyata kita sebelahan..” Seru Ndha riang melalang mendapati tempat duduk test semester ganjil-nya bersebelahan dengan Mba Ida, kakak kelas, XI Syari’ah dan juga santri senior di pesantren kami.

“Wah, ternyata memang benar..” Sambut Mba Ida tak kalah lebay. –lalu merekapun bersepelukan-

-Tittt..toott..-

Bel petanda jam pelaksanaan test pertama hari pertama dimulaipun berseru. Ndha dan Mba Ida sudah siap duduk manis di bangku beridentitas itu.  Tak lama kemudian seorang wanita separuh baya mamasuki ruangan dengan menenteng selembar amplop coklat besar tebal di tangan kanannya. Beliau menebarkan senyuman ke seluruh penjuru ruang kelas, lalu berucap salam, dan sedetik setelahnya seluruh peserta ujian di dalam ruangan itu bersahutan menjawab.

Lembaran soal dan jawaban mulai dibagikan. Satu kursi paling pojok nampak kosong. Kasak-kusuk terdengar suara dari mulut ke mulut, “Eh, Joy ke mana?” , “Gak berangkat tah, dia?” , “ Masih ngantuk konser semalam, mungkin..” , “Eh iya, tuh anak kok gak ada kabar, gak berangkat sih?” Dari Bang Naen, Mba Lia, Mba Fazah, sampai anak XI Syari’ah lainnya gempar mengetahui ketidak hadiran satu temannya, Joy.

“Ah, gak ada si Joy, gak rame nih!” Seru Bang Ade keras, ia berdiri lalu melemparkan pulpennya.
Seluruh siswa terbengong dibuatnya. Satu-dua dari mereka bahkan terkekeh, dan Ibu pengawas itu hampir saja mendekatinya, kalau saja Bang Ade tidak cepat-cepat duduk menunduk.

“Joy itu siapa Mba?” Tanya Ndha yang duduk di bangku barisan ke dua paling depan itu, berbisik, mengernyitkan dahinya, merasa pernah mendengar nama itu.

“Teman kelas, Ndha. Dia jago Qurdis. Jadinya pada nyariin. Hehe..” Jawab Mba Ida santai. Ndha meng-oh pendek sambil mengangguk sekali, lalu meraih lembar jawabannya. 

“Pelajaran apa, Ndha?” 

“Sama. Qur’an Hadis.” Sahut gadis yang sedang asyik mengisi identitas di lembar jawaban itu, singkat, tak menoleh.

Test sudah dimulai sejak sekitar 20 menit yang lalu. Pintu tertutup rapat. Dua jendela nampak terbuka, beberapa anak sudah mulai gerah jawaban. Dari bangku paling belakang terdengar suitan kecil, isyarat agar temannya menengok ke arahnya, beberapa gumpalan kertas sengaja dilemparkan ke sana-ke sini, sedang anak lainnya tertunduk khusyu’ membuka HP-nya, jangan-jangan ada balasan jawaban dari temannya.

“Tok..tok..”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Semua peserta tersentak, langsung menghentikan aktifitas usaha menyonteknya masing-masing, duduk manis sambil pura-pura membaca soal. Wanita separuh baya yang mengawas di ruangan itupun beranjak dari duduknya, lalu membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum..” Sapa Pak Kholil ketika sebagian pintu terbuka.

“Wa’alaikumussalam..” Sahut para siswa mulai tegang.

“Anak-anak, tas dan buku silahkan diletakkan di depan!” Perintah Pak Kholil tanpa basa basi menebarkan senyuman sadisnya.

“Huuuuu.. Udah gak jaman, Pak!” Teriak beberapa siswa. Pak Kholil tak menjawab, hanya gerakan tubuhnya mengomandoi agar segera meletakkan tas dan buku-buku itu di bawah papan tulis. Ahirnyapun mereka menurut. Satu anak laki-laki memulai melemparkan tas ke depan, lalu disusul teman lainnya yang saling menitip meletakkan tasnya. Sejenak kemudian, Pak Kholil pamit lalu meninggalkan kelas. Suasana kembali gaduh. Apalagi karena Ibu pengawas itu juga ikut keluar dari ruangan.

“Niss.. Nisa, nomer 7 apa, Nis?” Tanya Ndha setengah berbisik pada temannya yang ada di barisan paling depan itu. Orang yang dipanggil menoleh, lalu membuka mulutnya tanpa suara, mengisyaratkan bahwa jawabannya adalah A.

“Haah, parah nih, susah-susah banget essay-nya!” Keluh Mba Arum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Eh Khoiriyah, minta essay dong!” Palak Mba Arum menoleh teman di belakangnya

“Aku juga belum..” Jawab Mba Riya datar, menghitung-hitung berapa soal yang belum dijawabnya. “Masih banyak.” Gumamnya.

Tak berapa lama kemudian, suara ketukan pintu kembali terdengar. Siswa yang menganclong dari tempat duduknya berburu jawaban, kalang kabut berlarian kembali ke alam masing-masing.

“Assalamu’alaikum..” Ucap sebuah suara, pelan. Seisi kelas tersentak, melotot tak percaya.

“Laaah si Joy, gue kira Pak Kholil.” Ujar Bang Ade berdiri mengepalkan tangan kanannya dan melemparkan pada telapak tangan kirinya.

“Kok baru berangkat, Joy?” Tegur Mba Ida.

“Hehe, aku kira gak semester.” Jawab Bang Joy santai, lalu mengambil lembaran soal di meja pengawas dan menuju tempat duduk yang kosong. Sedangkan pandangan mata Ndha semenjak tadi mengikuti langkah lelaki itu, hingga posisi kepalanya berputar 135 derajat.

“Stt!,” Panggil Mba Ida.

“Eh, emm.. hump..” Ndha tersentak. Gugup. Bingung sendiri apa yang tadi dilakukannya. Mba Ida tersenyum genit.

“Ciee.. Ada apa tuh?” Godanya menyenggol pundak Ndha.

“Ih, gak Mba..” Sangkalnya. Wajah gadis itu seketika memerah.

“Gak apa-apa, apa, apa-apa gak?” 

“Kaya pernah tau deh Mba.” Ujar Ndha sesekali melirik sosok Bang Joy.

“Iyalah. Kan satu sekolah. Kelas kita juga tetanggaan. Ya pasti pernah liat.”

“Hehe, yaudah. Nitip salam deh Mba. Salam kenal dari Ndha, gitu.”

Mba Ida tertawa kecil sambil mengangguk sekali mengiyakan, kemduan mereka kembali hanyut mengerjakan soal-soal itu.

Ahmad Rojali, atau lelaki yang akrab dipanggil Joy ini adalah salah satu bintang yang dimilliki MAN Buntet Pesantren. Ia cerdas, sosok pribadi yang mudah bersahabat, dan selalu bisa menghibur di suasana paling menyebalkan sekalipun. Dah ah, satu lagi. Suara Bang Joy tatkala melantunkan ayat-ayat Ilahi sungguh menyentuh. Ia seringkali menggaet pulang piala, setiap mengikuti lomba tilawah. Sosoknya juga kerapkali ditemui tengah mengisi ceramah di berbagai daerah di Cirebon dan sekitarnya, bahkan semenjak usianya masih terlalu dini. Jadi, bagaimana tidak benderangnya cahaya yang dipancarkan si bintang cilik itu?
 
***

     Terbalas

“Heii Ndha, gimana semester tadi pagi?” Tanyaku mendapati Ndha melangkah ke arahku.
“Alhamdulillah, sukses.” Jawabnya pendek tak lepas tersenyum.

“Sukses nyontek, ya?”

“Hehe..”

“Aku ke atas dulu ya, mau jemur baju, nih..” Kataku menenteng seember penuh pakaian yang baru saja selesai kucuci, dan tanpa menunggu persetujuan anak itu, aku segera menaiki anak-anak tangga. Sedangkan Ndha masuk ke kamar besar.

“Ndha.. Mba udah sampein salammu. Kata Joy, salam balik.” Mba Ida memberi tau.
 
“Iyakah Mba?” Ndha antusias.

“He’em. Kata dia, boleh gak minta nomer kamu sama nick fb-mu juga?” Lanjut Mba Ida sembari membereskan isi lemarinya.

“Hmmm.. Boleh deh, kasih tau aja ya Mba.” Sambut Ndha senyum-senyum sendiri.

“Khem! Joy baru putus, loh, Ndha..” Kata Mba Ida tiba-tiba. Ia melirik ke arah Ndha. Senyumnya masih sama, hanya saja pipinya kembali bersemu merah.

“Maksudnya, Mba?” Ndha memiringkan kepalanya sedikit. “Ndha minta kenalan gak ada niat lebih kok Mba. Cuma pengen kenal aja.”

“Iya deh, percaya.”

“Ya harus percaya, soalnya..” Ucapan Ndha terputus. Ia teringat suatu hal. Berlari ke lemarinya, lalu mencari sesuatu.

“Soalnya apa, Ndha?” Mba Ida penasaran.

“Sebentar ya Mba..” Ucap Ndha pelan. “Ah, ini dia!” Pekiknya kemudian, lalu menyerahkan sesuatu itu pada Mba Ida.

“Foto?”

Ndha mengangguk girang.

“Foto siapa ini, Ndha?”

“Itu ada namanya. ‘Ahmad Ghozali, Kiayi Cilik asal Cirebon’.” Jelas Ndha menunjuk dua larik tulisan yang ada pada foto berukuran 1 R itu.

“Ahmad Ghozali? Lalu apa hubungannya sama Ahmad Rojali?”

“Gak ada. Hehe. Aku nge-fans banget sama yang di foto itu. Dulu waktu Ndha kecil, dia ceramah di desa Ndha. Enak banget ceramahnya. Liat Bang Joy, Ndha ngrasa kaya liat orang yang di foto itu, Mba.” Mba Ida manggut-manggut.

“Foto siapa itu Teh?” Tanya Mba Lia yang tiba-tiba muncul di belakang Mba Ida.

“Mirip kecilnya Joy, deh..” Mba Fazah nimbrung, mencoba mengingat-ingat.

“Joy? Emang Mba Fazah tau kecilnya Joy?” Mba Lia mengalihkan pandangan ke arah kembarannya itu.

“Ih, yang kemarin kita liat di dompet Joy itu sih, Lia! Masa lupa? Mirip deh..”

“Oh iya, coba Teh, sini liat.” Mba Ida memberikan Foto itu pada Mba Lia. “Bener. Ini sih Joy.” Serunya kemudian. Mba Fazah mengangguk pasti, sedangkan Mba Ida dan Ndha terbengong tak percaya.

“Ndha.. Kok kaya sinetron banget, ya?”

“Hehe, ya nggak tau deh Mba.” 

“Punya Teh Ndha, tah?”  Tanya Mba Lia mengangkat foto di tangannya mengisyaratkan.

“Iya.” Jawab Ndha datar.

“Kok? Dapat darimana teh?” Timpal Mba Fazah.

“Dapet beli, waktu dulu dia ceramah di Cibinbing, ada yang jual, Rp 1000,-an.”  Ujar Ndha polos.

“Haaaaaaaaaaahhhh?!” Teriak Mba Ida, Mba Lia, dan Mba Fazah serentak.

Entah ketidak sengajaan itu merupakan isyarat apa. Yang pasti Ndha jauh-jauh hari telah menemukan seseorang yang tak tau siapa sebenarnya dirinya, yang fotonya masih ia simpan selama sudah lebih dari 10 tahun.

Semester hari selanjutnya menjadi cerita indah yang abadi bagi seorang Ndha. Dia yang ada di sana. Di bangku paling belakang dan paling pojok. Itu dia!, orang yang selama 10 tahun ini diidolakannya. Terkadang Ndha tak percaya, jika ia akan berkesempatan melihat langsung orang yang ada di dalam selembar foto yang selama ini ia simpan baik-baik itu. Tapi inilah kenyataannya, lelaki itu ada di sini. Satu sekolah dengan Ndha, satu ruangan, dan sekarang tepat berada di ujung pandangannya.

Sesekali mata Ndha mencari-cari sosoknya. Meyakinkan bahwa lelaki itu masih di alam kesadaran Ndha. Sekali, dua kali, dia masih ada. Masih asyik mengerjakan lembaran soal yang ada di depannya. Dan untuk ke-sekian kalinya Ndha menegok lagi, tepat di saat Bang Joy juga tengah melemparkan pandangannya ke arah Ndha. Di sana  tatapan mata dua anak manusia itu bertemu. Lama, cukup lama. Keduanya tersenyum malu-malu, lalu kembali dengan tugasnya masing-masing.

***

Semester telah berahir, rapot juga sudah dibagikan. Ada yang puas dengan nilai yang selama ini diperjuangkannya, ada juga yang kecewa. Tapi tentu kebanggaan yang paling besar adalah ketika kita mengerjakan tugas-tugas itu sendiri. Tidak lirik-lirik pekerjaan teman, apalagi copy-paste.

Suasana Pondok Pesantren Riyadhussolihin diliputi rasa sedih nan haru. Hari ini para santri diijinkan Abi Djawahir Djuha untuk liburan, pulang ke kampungnya masing-masing.

“Mba Pipi, nanti kalau udah nyampe rumah, sms Dilla ya. Biar Dilla tau kalau Mba sampai rumah dengan selamat, sehat, dan sentosa.” Pinta Dilla memeluk santri paling senior yang selama ini dianggap sebagai kakaknya sendiri itu.

“Elu juga Lis, ntar sms gue, yak!” Dilla ganti menubruk Elis, sahabat sejawat serta seperjuanganya.
“Iya, gue pasti bakal kangen banget ama elu, Dill. Kapan-kapan elu main kek ke rumah gue.” Timpal Elis mengeratkan pelukan Dilla. Mereka berpelukan lama sekali, seolah sepasang suami istri yang akan berpisah seumur hidup. Saling menumpahkan air mata dan isak tangisan.

“Mba-Mba, ayo cepetan ke bawah!. Udah ditungguin Abi-Umi.” Teriak Mba Oom dari lantai bawah, memecahkan keharuan.

“Iya, ayo..” Seru Mba Desy meraih dua koper big-nya yang akan dibawa pulang itu.

“Mba Desy mau pulang liburan tah mau boyong?” Ledek Zizah menjulurkan lidahnya, lalu cepat-cepat ngacir ke bawah, sebelum Mba Desy sempat menghadiahkan sebuah jitakan di kepalanya.

Satu per-satu semua santri bergantian menyalami Abi dan Umi, memohon maaf jika selama ini telah menjadi santri yang susah di atur, yang bisanya cuma menyusahkan keluarga Abi, yang banyak membuat keluarga marah. Kemudian mereka saling bersalaman satu sama lain, berpelukan, menangis membayangkan betapa dalam kerinduan yang akan ditanggung. Pada antrian makan dan kamar mandi, saat tidur bersama, dibangunkan sholat berjama’ah, pasti selama dua minggu ke depan semua santri akan sangat merindukan suasana pesantren.

***

Malam pertama di rumah orangtua, rumah penuh sejarah, rumah yang penuh kasih sayang dan berkah. Udara di tanah Kuningan memang biasa dingin, nyanyian jangkrik dan kodok sawah masih kerap melantun sebagai lagu pengantar tidur, dan kecemerlangan wajah langit malam yang tersenyum, mengerlip-kelipkan sinar gemintangnya dengan genit, membuat warganya selalu merindukan kampung halamannya ini.

Ndha duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di ruang tamu rumahnya, tepat menghadap layar TV. Acaranya bola. Bapak dan Ibunya sudah sejak sejam yang lalu tidur. Sedangkan satu adik lelakinya masih asyik bermain PS di kamarnya. Besok libur ini, pikirnya.

“Drett.. Dretttt…”

Benda yang sengaja diletakkan di atas meja, persis di depan gadis itu bergetar.

“Duh, siapa sih tengah malam begini sms?!” Ndha bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dengan sungkan, diraih HP merahnya itu. Satu pesan masuk baru.

KLIK!

‘Met malam Ndha. Ini aku, Joy.’

“Oh” Gumamnya dalam diam. Ia lalu memainkan jemarinya di antara tombol-tombol itu.

‘Met malam juga, kak.’

Ndha meletakkan kembali HP itu ke tempat semula. Tak lama kemudian, hp-nya kembali bergetar.

‘Belum tidur, Ndha?’

Dan jemari gadis itu kembali menari pada tombol di HP-nya, hingga terjadilan obrolan ini dan itu.

‘Pacaran yuk Ndha.’

Deg!.. Apa yang baru saja dibacanya? Tapi selama ini Ndha tidak pernah menganggap Bang Joy itu lebih, selain kakak kelasnya, dan… tentu saja sebagai idola masa kecilnya!

‘Gak ah kak. Ndha masih trauma pacaran’

‘Aku juga’

‘Trus kenapa ngajak pacaran? Gak kapok?’

‘Makanya ayo kita coba lagi.’

‘Tapii…’

‘Kenapa?’

‘Kasih Ndha waktu ya, kak!’

‘Oke :) Met tidur, Nda.’

Begitu pesan singkat penutup dari Bang Joy. Ndha tidak membalasnya. Dimatikannya TV dan lampu di ruangan itu kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Ndha merebahkan tubuhnya di atas ranjang berselimutkan tokoh kartun Doraemon faforitnya itu, lalu mencoba memejamkan kedua kelopak mata bundarnya. Tapi tak bisa. Setiap bait SMS yang dikirimkan Bang Joy tadi masih lancar ia baca di bayangannya, tingkah konyol lelaki itu, senyumannya, tatapan pertamanya di ruang test itu, semuanya silih berganti terputar dalam memory otaknya, membuat gadis itu tak enak tidur. Kegalauannya semakin mencuat tatkala kelebatan potret bocah lelaki kecil bersorban dalam foto itu juga ikut hadir dalam bayangannya. Aneh, pikirnya.

“Pertanda apa ini, Allah?” Lirih gadis berselimut biru itu menengadah.

Menerima ajakan Bang Joy untuk menjalani pacaran dengannya, berarti musti siap sakit hati. Sedangkan baru saja Ndha mengalami pahit pedihnya rasa itu, dan belum cukup kuat rasa-rasa sukmanya untuk dalam waktu dekat ini merasakannya lagi.

“Ndha.. Ayolah!, sekarang bukan waktunya begadang untuk memikirkan seorang lelaki yang baru saja kamu kenal. Besok pagi-pagi kamu punya janji sama teman-teman SMP. Ayo tidur!, besok bangun pagi-pagi!. Tidur Ndha, TIDUR!.” Bisik gadis itu, mensugesti otaknya sendiri.

***

Malam telah berlalu. Gulitanya sebentar lagi akan berganti menderang, namun cahaya matahari masih malu-malu menyinari bumi Kuningan. Adzan Subuh baru setengah jam yang lalu menggema. Ndha masih duduk di atas sajadah berpeluk dengan mukenah putihnya menepis rasa dingin menyengat yang mengiring sang Subuh. Sesekali bibirnya nampak bergerak-gerak mumuja-muji Tuhannya, juga memohon petunjuk tentang jawaban apa yang musti ia berikan pada Bang Joy.


“Allah, Allah, Allah..”


Bacaannya tiba-tiba terhenti. Ndha berdiri lalu mengambil HP-nya di dekat bantal tidur semalam. Dicarinya kontak bernamakan “Kak Joy”, lalu ia meng-klik KIRIM PESAN.


‘Ndha mau jadi pacar kakak.’


Ndha menarik napas panjang dan berat, sebelum ahirnya ia menekan tombol KIRIM.


Brug!..


Ia melemparkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit, mencari keyakinan bahwa yang baru saja diputuskannya adalah suatu yang tepat. Ndha beranjak, memeriksa tas yang diletakkannya asal di tepi kasur, lalu mengambil selembaran foto. Ah, gadis itu kini membayangkan jika Bang Joy itu benar adalah lelaki yang sama yang ada di dalam foto yang ia genggam, pastilah ia menjadi wanita yang sangat beruntung. Lamunannya seketika membuyar merasakan geratan di tangan kirinya. Satu pesan masuk baru, dari KAK JOY!


‘Beneran, Ndha? Aku gak akan mainin kamu, sumpah. Makasii ya Ndha sayang..’


Gadis itu tersenyum malu-malu,


‘Iya, Ndha percaya kok, A. Ndha juga sayang Aa.’


Entahlah, semenjak itu hubungan mereka semakin hari semakin jauh. Dua hati yang pernah tersakiti, dua perasaan yang saling ingin berbagi, serta dua jiwa yang saling ingin melengkapi, sejak saat itu berjanji dalam kesungguhan hati untuk meleburkan cinta dalam satu kesucian yang hakiki, kelak, di depan orang tua wali, malaikat pemikul Arsy, disaksikan sang Illahi.


***

Ankasa Anis Khairunnisa
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Anda pengunjung ke:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Rainbow After Tears - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template