Da'i Sekaligus Mad'u
Written By Anis Khairunnisa on Senin, 14 April 2014 | 07.33
"Masing-masing kita adalah Da'i, sekaligus Mad'u."
Suatu ketika, acara tv yang sedang asyik ku tonton berganti menjadi pengupasan di balik insiden perlakuan seorang ustadz kondang tanah air. Nampak beliau sedang menasehati seseorang yang duduk agak lebih bawah darinya. "Kamu dendam pada saya? Astaghfirullah, hidupmu dipenuhi dendam. Taubatlah! Astaghfirullah..." ucapnya berkali-kali, seraya sesekali menepuk pundak pengola sound system yang ada di hadapannya. Sedetik kemudian... Allahu Akbar. Shock, tentu. "Sekarang yang pendendam itu siapa sebenarnya?" gerutuku dalam hati.
Setiap jam kuliah Ilmu Dakwah, selalu ada saja yang kembali menyinggung kepantasan beliau menyandang gelar Da'i. Kelas selalu riuh jika tema sudah beralih ke sana, seolah semuanya angkat bicara. Ada yang menyangkutkannya dengan salah satu sifat yang harus dimiliki seorang Da'i, yakni berupa Tawadhu' (Rendah hati). Ada yang menghantamnya melalui salah satu syarat pendakwah, di mana ilmu seorang Da'i harus sesuai dengan perbuatannya dan konsisten dalam pelaksanaan. Wuuh, kelas kami bak pasar bawang memperdebatkan harga yang kian melambung.
Namun Dosen kami hanya menanggapinya dengan senyuman. Dari perdebatan panjang kami, beliau hanya berkomentar dengan satu kalimat:
"Masing-masing kita adalah Da'i, sekaligus Mad'u." ~Bapak Drs. H. Muzakki~
Label:
Diskusi


