Aha!, ini dia. Puisi ini aku buat waktu ngaji Jurmiyah. Aku lupa
tanggalnya gak kecatat, yang jelas jaman-jamannya kelas X atau XI
deh.
Ceritanya, malam itu A Abdullah marah gara-gara banyak santri putra yang datang telat ke pengajian. Bisa kalian bayangkan?
Santri
putri pada saat itu banyak yang nangis. Ada yang sampe gak kuat, karena
A Dullah memang marah besar saat itu. Aku belum pernah sebelum dan
sesudahnya liat Aa marah sedahsyat itu. Saat semua santri sedang
mentafakkuri ulahnya itu -termasuk aku- , aku malah bikin puisi. Ya ini.
Maka jadilah puisi ini sebagai hasil dari perenungan 15 menitku itu.
hehe..
Gemuruh takutku kian meningkat
Nafsu bercampur sadar kian pekat
Melekat... Erat...
Menanggung segumpal harapan yang terlaknat
Rasa semu indah memikat
Membelai syahdu hanya sesaat
Lalu hilang dan tumbuhkan sejuta penat
Menyesal.. Sesal-sesalan kiat!
Apakah kiat kan jadi rahmat?
Ketika lelah kiat giat,
Dan nurani tlahlah tersambar kilat
Meski tau enggan bukan berarti tak minat...
Tapi lautan kasih tlah tergoncang badai dahsyat
Remuk dada dan rasa segenap hasrat
Ketika sampai lerai sebuah ikat,
Sebentuk kokoh, tak lagi bulat.
Nafsu bercampur sadar kian pekat
Melekat... Erat...
Menanggung segumpal harapan yang terlaknat
Rasa semu indah memikat
Membelai syahdu hanya sesaat
Lalu hilang dan tumbuhkan sejuta penat
Menyesal.. Sesal-sesalan kiat!
Apakah kiat kan jadi rahmat?
Ketika lelah kiat giat,
Dan nurani tlahlah tersambar kilat
Meski tau enggan bukan berarti tak minat...
Tapi lautan kasih tlah tergoncang badai dahsyat
Remuk dada dan rasa segenap hasrat
Ketika sampai lerai sebuah ikat,
Sebentuk kokoh, tak lagi bulat.
-Ankasa-


