Kekecewaan itu hadir kembali. Iya! Dia ada di sini. Mencabik perasaan sayang yang tak berdosa. Jika kau bertanya bagaimana hadirnya kecewaku, sedang sayang adalah perasaan memberi tanpa mengharap kembali, maka aku jawab itu benar.
Kekecewaanku bukan sebab dia lebih memilih
wanita lain tuk lewati hari indah bersamanya. Bukan. Kecewaku bukan pula
karena janjinya bertahun lalu untuk tetap menantiku dalam cinta telah dia
ingkari. Aku kecewa karena dia begitu gagah. Lelaki tangguh yang setiap
langkahnya tak lelah menjelajah cakrawala, mendaki batas-batas khatulistiwa.
Namun... Keteguhannya tak segagah tegak
langkahnya. Tak setangguh rindunya pada kebebasan. Tak sebergemuruh
teriakkannya menantang biru dan hijau. Keteguhannya tak ada. Entah apa namanya.
Bukan penepatan janjinya yang aku nanti. Namun
keteguhan menjaga dirinya sendiri, menjaga hati, menjaga nafsunya. Sebab ku sayangi
dia. Bukan! Bukan ku memintanya tetap teguh menjaga diri untuk
menantiku. Bukan. Melainkan untuk seorang wanita yang kelak ia panggil "Jauzatii..."
Mungkin jika bukan dengan pacaran caranya mengajak seorang wanita merasakan
keindahan cinta bersama dalam sebuah ikatan, mungkin aku tak akan pernah
sekecewa ini.
Biar ku ingatkan lagi, Abang...
Perasaan cinta, benci, kecewa, bahkan marah, tak
pernah salah. Tidak pernah. Sebab yang membolak-balikkan hati manusia, bukan
manusia itu sendiri. Melainkan Allah.
Hanya Allah yang berkuasa pilihkan satu rasa
paling dominan yang nantinya akan mampu memperbudak dirinya sendiri. Hingga dia
merasa perasaannya begitu suci, terlampau agung bertahta dalam ketulusan jiwa,
merasa perasaannya takkan pernah berubah, menganggap hati sudah temukan muara yang tepat, merasa
kesemuan itu jawaban Tuhan atas penantiannya. Merasa hatinya telah berhenti
selamanya. Merasa hati sudah
temukan muara dan telah berhenti
selamanya. Kesemuan? Tentu saja. Cinta mana yang mampu menandingi
kehakikian cinta Allah, cinta Rasulullah?
Rasa menjadikannya
lupa, bahwa bagi Allah mudah saja membalikkan rasa. Mudah. Ketika Allah
berkehendak, Dia cukup berfirman KUN. Maka cinta yang sudah bertahun ada di
hatimu pada seseorang yang kau panggil sayang itu, seketika berubah benci. Atau
sebaliknya. Dalam sekejap. Apa yang mustahil? Semua hal yang kau
anggap rumit sekalipun, begitu mudah di bawah kekuasaan sang Raja di atas para
penguasa; Allah.
Maka
perasaan itu tak pernah salah. Bahkan ketika kau merasa benci dan sangat marah
pada seseorang. Itu tak salah. Yang terkadang salah adalah cara kita menyikapi
segala rasa yang ada.
:) bukankah bahkan untuk memastikan Islam
selalu ada di hati kita pun, kita musti memohon pada yang punya hati?
"Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik." Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu.
Lantas bagaimana engkau seenteng itu menganggap
cintamu sudah benar-benar berhenti pada satu nama? Dengan rajin berdoa
pada Allah, minta dilanggengkan hubungan dengan wanita yang hei, siapa dia?
Pacarmu? Wah becandamu lucu sekali. Khlawat aja tuh Allah gak bolehin. Gimana
ceritanya Allah akan merestui hubungan yang kalian namakan "Pacaran
Islami" itu? Subhanallah...
Engkau Abang, aku tidak membencimu. Yang aku
benci adalah caramu menyikapi perasaan cintamu itu. Aku tak benci kamu, bang.
Hanya kecewa~


