Oleh: Anis Khairunnisa
Mahasiswi BKI semester II IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Postingan ini bermula dari cerita di angkot siang ini. Selesai mengerjakan ujian terahir hari ini yakni Sejarah Dakwah, seperti biasanya saya pulang menggunakan angkot. Saya memilih duduk di bagian belakang pojok sebelah kanan, karena dirasa paling strategis untuk tidur. Muehehe…
Jadi ceritanya begini, pemirsa. Di angkot tadi saya duduk bersebelahan seorang guru dari salah satu SMA di kota Cirebon. Awal pembicaraan hanya selayak pembicaraan pada umumnya, hingga ahirnya pertanyaan belau merajuk pada “Sekolah di mana, dek?”, “Jurusan apa?”, “BKI? Ooh…”
Ada yang menarik di sini. Ketika saya menyebutkan bahwa lulusan BKI di IAIN tidak dibentuk untuk menjadi guru BK di sekolah-sekolah. “Lalu nantinya jadi apa?” tanyanya kemudian.
Saya jadi teringat salah satu soal yang diberikan pak Fuad Anwar dalam ujian beberapa hari lalu mengenai Integrasi BKI dengan Ilmu Dakwah. Iya. Kembali pada pertanyaan Ibu tadi. Mau apa anak BK ada di dakwah?
Mengutip pengertian Bimbingan dan Konseling dalam buku Landasan BKI-nya pak Fuad Anwar, dimana BK merupakan suatu proses pemberian bantuan agar seorang individu dapat memahami dunianya dengan mengupayakan perubahan perilaku pada individu tersebut agar hidupnya lebih bahagia. Lantas, untuk apa dimasukkan nafas dakwah dalam pemberian bantuan tersebut?
Ibu Asriyanti Rosmalina dalam MK Sejarah Dakwah menjelaskan, bahwa Dakwah secara bahasa artinya memanggil, menyeru, atau mengajak. Dakwah Islam berarti sebuah panggilan, seruan, atau ajakan seseorang pada orang lain untuk hayyu kenal Islam, hayyu belajar Islam, hayyu peluk Islam. Lebih dekaaaat... Lebih dalam....
Artinya bahwa, seseorang yang sedang bingung dan merasa galau pada masalahnya, merasa depressi bahkan stress, sebenarnya telah lupa bahwa di atas kehidupan ini terdapat sesuatu yang melebihi masalahnya. Terkadang orang itu bukan tak tau, melainkan lupa. Iya, lupa. Lupa, karena nyatanya masalah yang tengah menimpa telah melumpuhkan imannya. Di sinilah peran BK Dakwah.
Kita semua tau, bahwa apapun yang terjadi di muka dunia ini adalah haq atas kehendak Allah. Bagi Allah, jaiz menciptakan alam raya ini. Allah boleh saja menciptakan atau tidak menciptakan kita. Tapi Allah memilih menciptakan kita. Untuk apa? Pertanyaan ini bisa dijelaskan oleh konsep wahdatul wujud di MK Ahlaq-Tasawuf, bahwa alam ini sesungguhnya adalah cerminan dari sifat Allah. Dan penciptaan kita merupakan suatu bukti bahwa Allah itu bersifat wujud.
OK. Sekarang kita sudah benar-benar yakin bahwa Allah itu wujud? Bahwa Allah itu ada, dan tidak pernah tidur? Tidak makan, tidak minum, tidak buta, tuli, dan sebagainya? Iya. Karena Allah adalah dzat yang Maha Sempurna segala-galanya.
Setelah kita yakin bahwa Allah itu ada, dan penciptaan dunia ini hanyalah cerminan dari 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiznya, maka seharusnya kita memahami bahwa adanya masalah di muka dunia ini juga termasuk cerminan sifat Allah. Jaiz. Allah boleh memberi atau tidak memberi seseorang masalah. Terserah Allah.
Orang bilang, masalah adalah adzab dunia yang ditimpakan Allah pada seorang pendosa. Bisa jadi. Tapi sebagai orang beriman, kita tau bahwa masalah merupakan ukuran tingkat derajat seorang hamba di hadapan Allah-nya. Semakin berat masalah yang dihadapi seseorang, semakin agung derajatnya di sisi Allah. Justru patut dicurigai jika Allah tidak lagi memberikan kita masalah, jangan-jangan Allah sudah lupa punya kita, sudah tidak sayang pada kita lagi, atau jangan-jangan Allah sudah memecat kita sebagai hamba-Nya. Hiks!
Oleh sebab itu, bersyukurlah jika saat ini Allah sedang memberimu masalah. Artinya saat ini Allah masih sayang kamu, artinya saat ini Allah sedang merindukanmu. Ingin nama-Nya yang agung itu kau sebut-sebut dalam khusyu’, rindu kau bersujud dalam derai merendah memeluk asma-Nya. Inginkanmu mengencaninya dalam dzikir, dalam hati yang hening. Allah begitu mencintai kita dengan masalah ini, tapi apa yang kita katakan ketika ditimpa masalah? “ALLAH TIDAK ADIL!” Subhanallah… :’(
Jika kita yakin hadirnya semua masalah di atas dunia ini adalah atas kehendak Allah, maka kitapun pasti meyakini bahwa pada Allah juga lah terdapat solusi atas masalah tersebut. Mudah saja bagi Allah untuk melakukan sesuatu. Sangat mudah. Cukup berfirman “Kun”, maka apapun itu yang Dia mau, pasti terjadi. Apakah tak cukup ayat itu menenangkan hatimu yang ditimpa masalah sebesar gunung uhud itu?
Mulai sekarang berhentilah mengeluh, dan menganggap masalahmu itu besar. Mulailah belajar membenamkan asma Allah. Teringat salah satu tugas mingguan yang diberikan dosen Ahlaq Tasawuf kita, bapak Abdul Basit. Mulailah paksakan dirimu untuk menulis lafadz Allah di setiap menjelang tidur sebanyak selembar kertas, dan istiqomahkan. Benamkan dalam hatimu bahwa engkau punya Allah yang Maha Besar. Adanya masalah dalam hidup hanya perkara “KUN” bagi Allah. Perkara jaiz bagi Allah.
Maka untuk apa dakwah dalam BKI? :) Semua orang hidup punya masalah. Itu bisa merupakan tanda adzab, atau sebagai ukuran derajat orang-orang beriman di sisi Allah. Jangan galau. Masalahmu mungkin besar, tapi Allah-mu jauh lebih besar. Bahwa jika kau percaya Allah adalah dzat yang memberimu masalah, maka kau pun harus yakini pada-Nya pula solusi itu ada. Kembalikan semua pada Allah. Minta tolong pada Allah. Selalu ingatlah asma Allah.
Presentasi ISBD bertajuk “Penderitaan, Kegalauan, dan Penyebabnya” serta pertanyaan Sugiarto tentang tingkatan galau itu membuat saya mengerti satu hal. Bahwa semua keadaan yang membuat orang merasa tersiksa sebenarnya hanyalah sugesti pikirannya sendiri, dan penyebabnya hanyalah satu. Karena seseorang jauh dari mengingat Allah.
“Yaitu orang-orang beriman dan hatinya menjadi tentram karena mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan menyadari Allah, hati menjadi tenang.” (QS Ar-Rad: 28).


