Beberapa minggu ini saya membuka akun twitter baru. Sebuah akun yang saya buat untuk mengisi waktu luang sekedar menepis bayangan seseorang. Pada bio saya cantumkan jasa curhat. Iya. Sebenarnya ini hanya kreatif saya, sebab merasa sudah sampai daya mencoba menghindar, coba lupakan, atau sekedar berpura-pura tak pernah pedulikan.
Hehe. Masalah mereka ternyata sama saja dengan saya :) Perihal cinta. Iya. C I N T A. Banyak. Kisahnya beragam. Tapi ada satu curhatan yang sampai saat ini masih saja saya pikirkan. Tentang keabadian rasa.
Dulu… Saat saya baru mengenal lelaki dalam arti yang lebih dalam, saya merasa dia adalah segalanya. Keindahan paling indah yang Tuhan ciptakan untuk menghiasi sisa umur saya bersamanya. Hingga ahirnya hari yang tak pernah saya dambakan pun tiba. Dia pergi… Dia telah bergandeng tangan dengan wanita lain. Saat itu saya merasa dunia tak ada artinya lagi. Benar-benar merasa sendiri, meski dalam ramai. Merasa telah hancur berkeping, meski nyatanya hati ini saja masih utuh. Utuh, tak tersentuh. Tapi saya merasa kehidupan ini telah berahir. Telah selesai dengan ditandai pilihannya pada wanita lain.
Saya merasa tak berarti. Hilang melayang dalam buyaran keping angan. Hingga suatu hari, saya temukan seorang lelaki bunga pujaan hati yang dengan mudahnya mampu mempesonakan pandang saya. Dia lebih indah dari sebelumnya. Dia lebih menawan hati daripada dia yang sebelumnya saya anggap satu-satunya. Indahnya lebih dari segala yang ada di dunia. Saya merasa tlah tak ada kata yang sanggup mewakilkan perasaan ini. Iya. Meski hanya selang satu hari setelahnya, saya tau dia sudah tak sendiri. Saya menangis meraung-raung, merasa cinta saya tersakiti oleh keindahan yang tak dapat saya miliki itu.
Hingga saya merasa harus melepaskannya. Melepaskan perasaan sayang yang terlanjur menggerogoti kesadaran. Kini yang saya bisa lakukan hanya meminta, memohon pada Tuhan saya yang Maha itu untuk menunjukkan lelaki mana muara cinta kasih ini. Satu bulan, dua bulan, delapan bulan. Hingga setahun lebih lima bulan, perasaan ini tetap ada. Tetap bersemayam indah dalam tempatnya. Meski setiap harinya tak pernah ada kata di antara kami, tak pernah ada sapa, atau sekedar saya mengaguminya lewat status di facebook. Tak ada. Dia seperti lenyap ditindas kerahasiaan. Tapi rasa itu masih utuh untuknya.
Keadaan ini membuat saya berpikir dialah jawaban Tuhan atas penantian cinta saya. Bahwa dia adalah pemberhentian hati yang sesungguhnya. Dialah muara cinta saya yang selama ini mengembara ke mana-mana. Namun ketika saya merasa yakin dan bertambah yakin, lelaki lain justru menutup mata saya dari keyakinan itu.
Entahlah, perihal cinta sungguh terlalu rumit untuk saya mengerti. Kepastian rasa nyatanya adalah ketidak pastian itu sendiri. Begitu mudahnya Tuhan membalikkan perasaan seseorang. Saya yang sudah mencintai dalam tulus selama satu tahun lima bulan ini hanya menelan ludah penyesaalan saat mengingat dulu sempat menganggap hati saya sudah benar-benar berhenti padanya. Nyatanya mengenal yang lainnya tak lebih dari sepuluh menit, perasaan saya sudah beralih saja pada lelaki itu. Dan saya tau persis ini bukan kesalahan. Mencintai itu bukan kesalahan, melainkan rahmat. Mencintai itu bukan kesalahan, melainkan menganggap yang dicintai itu akan selamanya dicintai itulah kesalahannya.
Maka mulai sekarang saya bebaskan saja hati ini. Saya ikhlaskan Tuhan saya yang pilihkan. Biarlah nanti siapa yang datang, yang siap berjalan berdampingan bersama saya dalam ikat suci pernikahan. Biarlah saja kini saya ahiri keterikatan hati. Membebaskan cinta dalam diam yang selama ini saya ikat dalam sukma. Saya tak mau lagi ada harapan pada satu lelaki. Cukuplah Allah yang lebih tau siapa yang terbaik, saya tidak. Karena jika pun saat ini saya tengah mencintai satu nama lelaki, saya tau pasti tak ada yang sanggup pastikan dia abadi selamanya saya cintai. Hati saya bukan kehendak saya. Hati saya Allah nya saya yang berkuasa membolak-balikkannya.
Saya lepaskan, saya ikhlaskan… Hari ini mungkin saya masih cinta. Masih mengaggap dialah yang terindah. Tapi saya tidak tau esok nanti. Saya tak tau apakah saya masih mencintainya, atau justru telah berpaling hati mencintai yang lain.
Maka saya lepaskan, tak mau menganggap cinta yang belum terikat pernikahan ini telah berhenti. Cinta saya masih terus berlanjut. Hingga pernikahan menjadi pemberhentian hati yang senyatanya :)
Ankasa, 10 Juni 2014.


